Jumat, 28 Desember 2012

A Long Visit a.k.a My Mom--Ada yang Tidak Beres dengan Sang Ibu


Poster Film A Long Visit (My Mom)

Ini adalah tulisan lama saya, tertanggal 6 Januari 2011 di arsip saya. Dulu saya posting di note FB, namun kali ini saya ingin mempostingnya lagi di blog ini. Check it out!

Banyak teman yang bilang film ini BAGUS, mengharu biru, dan pokoknya menyentuh hati. Saking meyakinkannya mereka bilang begitu, saya jadi semakin termotivasi untuk menontonnya. Beberapa hari setelah mendapat film-nya, saya langsung menontonnya. Mungkin karena ekspektasi yang terlalu berlebihan, akhirnya membuat saya jenuh menonton film ini. Pada awalnya saya menikmati alur cerita yang natural dan sangat “nyata” di kehidupan kita itu, tapi baru setengah dari durasi film, saya angkat tangan dan memutuskan untuk mematikan laptop saya. Saya pikir akan ada semacam “kejutan” atau apalah di tengah cerita, tapi nyatanya alur film tetap berjalan seperti itu. Mungkin memang A Long Visit dimaksudkan untuk dijadikan film yang datar tapi mengena, seperti The Way Home, Hearty Paws, Hachiko, atau Wedding Dress. Tapi, menurut saya—ini menurut saya J--keempat film tersebut lebih punya sedikit amplitudo dibanding A Long Visit.

Akhirnya saya merampungkan film itu beberapa hari kemudian. Saya penasaran, tapi bukan layaknya penasaran terhadap kejadian di dalam film itu, melainkan penasaran kapan si “kejutan” atau setidaknya sedikit “amplitudo” itu akan muncul. Dan memang, amplitudo itu muncul, tapi agak-agak di akhir. Ternyata, si anak perempuan kesayangan sang ibu sakit kanker dan meninggal di penghujung film—ending tipe film golongan atau digolongkan “datar tapi mengena”.

Kalau dari segi akting, film ini memang bagus. Sang ibu dan anak perempuannya bisa menerjemahkan skenario film yang dibuat sealami mungkin (seperti kehidupan sehari-hari) menjadi akting yang juga natural. Bagaimana ibu yang tidak berpendidikan berjuang membesarkan anaknya dengan penderitaan dan kekonyolan-kekonyolan yang banyak terjadi di sekitar kita, sang anak yang malu tapi sayang dengan ibunya yang norak tapi sangat mencintainya, dan sederet peristiwa-peristiwa lazim lainnya yang terjadi di kehidupan nyata. Film ini menjadi kubu seberang dari film-film laris yang dikatakan realistis tapi tidak realistis-realistis amat juga. Misalnya, ketika seorang gadis harus berjuang menghidupi diri dan keluarganya (atau harus berjuang untuk membayar utang yang ditinggalkan orang tuanya), ia lalu bertemu dengan laki-laki tipe pangeran tampan yang bertemu dengannya karena suatu KEBETULAN. Meski dari kalangan tidak punya, kebetulan gadisnya cantik, jadi endingnya pun... ya begitulah. Kalau dipikir-pikir, apa iya kita sering menemui fenomena semacam ini? Kalau kebetulan gadisnya tidak cantik (secara fisik) bagaimana? Atau yang laki-lakinya tidak tampan (secara fisik juga) bagaimana? Sudah begitu, kadang-kadang si gadis jadi rebutan juga. Laki-laki yang merebutkan masuk tipe pangeran tampan pula! Kalaupun ada kenyataan semacam ini, pasti sedikit. Padahal cerita tipe cinderella seperti ini buaanyak sekali dipakai untuk inti cerita dan laris manis di pasaran. Tapi tidak bisa dipungkiri, kisah-kisah seperti ini memang banyak disukai oleh masyarakat, terutama masyarakat yang mendambakan kehidupan ideal, sejenak mereka lari dari kenyataan dan bahagia dengan menonton serial yang beralur ideal itu.

Dibanding dengan kisah semacam itu, mungkin sesekali kita memang perlu menonton film-film yang lebih realistis dan natural, kita bisa bercermin terhadap diri kita sendiri, dan kadang menertawakan kekonyolan dalam film yang sering kita lakukan di dunia nyata. Seperti film A Long Visit ini, yang malah mungkin terlalu realistis.

Hal lain yang mengecewakan saya, selain “amplitudo” yang kurang greget, adalah pesan moral film ini yang kurang sempurna. Mungkin dari film ini, sang penulis cerita ingin menyampaikan pesan dengan tokoh utama ibu, yaitu tentang “sayangilah ibu”, “jangan membenci ibu”, “pengertianlah terhadap ibu”, dan sebagainya. Tetapi setelah menonton film ini, bukannya saya menangis karena terkenang sosok ibu yang begitu mulia, saya malah sungguh tidak suka dengan sosok ibu dalam film ini. BENAR-BENAR TIDAK SUKA.

Mari kita cermati dari tiap segmen film ini.

Pertama, film ini seolah-olah menunjukkan betapa besar kasih ibu kepada anaknya. Tapi anak yang mana? Di film ini, si ibu sangat sangat sangat menyayangi anak perempuannya, tapi anak laki-lakinya ia cueki mentah-mentah. Kalau pesan yang akan dibawa adalah besarnya kasih sayang ibu kepada anaknya, harusnya tokoh ibu dalam film ini juga menyayangi anak laki-lakinya (adiknya si anak perempuan kesayangan). Atau setidaknya bersikap sewajarnya, tidak cuek seperti itu. Kesan ibu mulia yang penuh kasih sayang terhadap anaknya (semua anaknya—red) menjadi gagal dibawakan dalam film ini, karena ia hanya mencurahkan kasih sayangnya pada anak perempuannya.

Kedua, film ini seolah-olah ingin menunjukkan betapa besar dan berat perjuangan seorang ibu untuk membesarkan anaknya. Tapi, film ini menunjukkan karakter sang ibu yang RELA melakukan APA SAJA demi anaknya, termasuk mendatangi peramal dan menawar harga makanan di pasar dengan begitu sadis. Tentu saja saya sebagai seorang muslim sangat tidak sepakat dengan hal ini. Kita boleh bekerja keras untuk suatu hal yang baik (termasuk membesarkan anak), tapi tidak sampai berbuat syirik dan mendzalimi orang lain.

Ketiga, film ini seolah-olah ingin menunjukkan rasa cinta yang total dari sang ibu untuk anaknya (anak perempuannya—red). Tapi, rasa cinta ini sungguh diekspresikan terlalu berlebihan. Sang ibu sangat tidak rela ketika anaknya mati, sampai menangis meraung-raung, bahkan berjanji untuk mati duluan. Karena ternyata tidak mati duluan, ia berjanji untuk segera menyusul anaknya dan bertemu dengannya di kehidupan berikutnya. Kehidupannya pun dihabiskan dengan hanya melamun dan ia menjalani semua aktivitas seolah-olah tanpa nyawa—sampai sebegitunya. Kembali lagi, dikemanakan anak laki-lakinya? Bukankah ia masih punya seorang anak laki-laki? Lalu ia juga punya cucu dan menantu yang baik. Mereka semua dikemanakan? Lagi, sebagai seorang muslim saya sangat tidak sepakat dengan hal ini. Sang ibu telah menempatkan rasa cinta yang pertama untuk anak perempuannya. Padahal, tingkatan cinta yang pertama adalah untuk Allah SWT. Dan yang keduapun untuk Rasulullah SAW. Tidak boleh kita cinta berlebihan pada harta, kekuasaan, kecantikan, ketampanan, bahkan pada anak. Kita juga tidak boleh menangisi orang yang sudah meninggal dengan berlebihan, sampai meraung-raung, mengutuk, dan bahkan mempengaruhi perjalanan kehidupan kita selanjutnya. Kita harus merelakan setiap nyawa yang pergi meninggalkan kita, agar ia pun bisa pergi dengan tenang.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan yang saya cermati itu, kembali saya menyampaikan bahwa mungkin film ini memang ditujukan untuk menunjukkan realita yang ada dalam hidup kita. Mungkin sang penulis cerita pernah menjumpai sosok ibu dengan karakter semacam itu, atau bahkan mengalaminya sendiri. Tidak bisa dipungkiri, di dunia nyata ini ada sosok ibu dengan karakter seperti itu, dan penulis cerita ingin menunjukkan bahwa “ini lho, ada ibu yang sayang sama anaknya sampai sebegitunya...”. Kalau memang tujuan film ini hanya sekedar mencuplik realita dalam kehidupan ini, film ini cukup bagus, karena kedalaman peran ibu dan anak yang natural. Tapi kalau film ini ditujukan untuk membawakan pesan moral, saya rasa masih ada yang kurang pas.

That’s all. Itulah hasil cermatan saya tentang film A Long Visit a.k.a My Mom. Mungkin terkesan subjektif, dan mungkin saja hasil cermatan orang lain akan berbeda. But it doesn’t matter, semua orang punya pendapat masing-masing :)

4 komentar:

  1. Saya setuju sih, nih ibu cuek bebek sama anak cowoknya, dan perannya benar2 seperti cameo. Kalo tentang syirik, dzalim, dukun dll, apalagi tentang cinta yang berlebihan menurut saya itu tidak masalah selama film itu bukan bertemakan islam, film korea itu jgn dipandang dari sudut ajaran islam, karena sudah pasti beda jauh sama budaya dan kehidupan kita sebagai muslim.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau saya jadi anak laki-lakinya sepertinya bisa depresi :D
      Iya betul, soal tema Islam memang iya sih film itu bukan film Islam, dan tidak bisa dituntut untuk sesuai syari'at Islam. Tapi kalau mau diambil pesan moralnya secara umum (bukan secara Islam saja) juga menurut saya masih kurang pas.
      Thanks for the comment Mas Muhammad Nur Hambali :)

      Hapus
  2. Ini hanya film langsung tamat, bukan sinetron yg harus di detailkan serinci mungkin.
    Jadi kalau masalah ending tentang melamun, itu sepertinya memang skenario film ini yg bawaannya sendu dari awal. Coba kalau endingnya ibunya bahagia, malah ga ngena banget.. Hahaha :D
    Toh, itu masih masa berkabung, jadi ya wajar kalau masih sedih..

    BalasHapus
  3. Ini hanya film langsung tamat, bukan sinetron yg harus di detailkan serinci mungkin.
    Jadi kalau masalah ending tentang melamun, itu sepertinya memang skenario film ini yg bawaannya sendu dari awal. Coba kalau endingnya ibunya bahagia, malah ga ngena banget.. Hahaha :D
    Toh, itu masih masa berkabung, jadi ya wajar kalau masih sedih..

    BalasHapus