Jumat, 21 Desember 2012

(Cerpen) Aku dan Keberuntunganku - Part II


“Ibu dan Bapak malu tidak bisa membiayai kuliahmu sepenuhnya,” lanjutnya. “Kami justru mengandalkanmu membiayai kebutuhan kuliahmu sendiri. Bahkan, untuk membeli obat asma pun Ibu harus meminta darimu...”
Perlahan tapi pasti, air mata Ibu menetes membasahi pipinya yang mulai keriput. Bapak masih belum pulang dari pekerjaannya—pekerjaan yang kata Ibu tak sepadan dengan beban kerjanya. Itu adalah pekerjaan insidental, jika dipanggil Bapak akan datang, jika tidak maka Bapak menganggur. Sekali dipanggil, Bapak harus berangkat dari pagi-pagi buta dan pulang petang hari. Bapak harus mengepul kwintalan gula untuk diangkut dan dikirim ke tempat tujuan, lintas kabupaten. Aku juga sebenarnya tak tega jika Bapak harus menjalani pekerjaan itu, tapi mau bagaimana lagi, usaha Bapak sebelumnya telah mengalami kebangkrutan, tidak ada jalan lain kecuali menerima pekerjaan insidental itu.
Ibu mengusap pipinya yang dialiri air mata. “Kalau Ibu punya uang, pasti Ibu akan membelikanmu jaket dan sepatu baru...” kata Ibu sambil menoleh ke arah gantungan bajuku yang dipenuhi oleh baju-baju setengah kotor. Di salah satu gantungannya, tergantung jaketku yang sudah lusuh dan sobek di bagian lengan, yang masih aku pakai karena tak ada pilihan lain.
Aku menggeleng. “Ndak apa-apa, Bu, jaket Sita masih bisa dipakai kok...” kataku menenangkan, meski jujur, aku pun terkadang merasa malu jika orang-orang memandangi bagian jaketku yang sobek itu.
“Ibu masih sering terpikir, kenapa saat kamu masuk kuliah, justru saat usaha Bapakmu bangkrut?” ujar Ibu, dengan pandangan menerawang.
“Kalau itu di luar apa yang sudah kita upayakan, berarti hanya ada satu kemungkinan, itu adalah takdir, Bu...” kataku, seraya memasukkan uang yang telah kuhitung dengan seksama ke dalam dompetku yang lagi-lagi juga sudah usang. Aku tak tahu apakah karena aku memang tidak pandai merawat barang-barang kepunyaanku, atau karena memang benar-benar barang-barang itu sudah saatnya diganti.
“Ibu minta maaf ya, Nak...” kata Ibu akhirnya, malah meminta maaf.
Aku menggelengkan kepala. “Sita ndak perlu memaafkan Ibu, karena memang tidak ada yang perlu dimaafkan...” kataku. Untung aku tidak diciptakan sebagai gadis yang rentan untuk menangis, jadi aku tidak perlu repot-repot membersihkan air mata.
“Maaf...” gumam Ibu.
Aku hanya bisa memeluknya. Semoga bisa memberikan sedikit ketenangan bagi hatinya yang tengah gundah.
***
Saat pagi menjelang, dengan bersin-bersin yang mengiringi, aku berangkat menuju kampus. Cukup semangat di pagi ini, karena siang nanti aku akan menabungkan sebagian uang hasil jerih payahku, untuk persiapan tugas akhir semester depan. Ya, cukup semangat, meski aku harus berangkat ke kampus dengan naik bus dan angkot, karena tiba-tiba motorku mogok, minta menginap di bengkel.
Tanpa jadwal les, hari ini aku bisa leluasa mengerjakan tugas kelompok bersama teman-teman dan jadwal menemani adik-adik untuk praktikum pun siang hari, jadi aku bisa pulang sore—yang menurutku sudah termasuk pulang awal. Aku pun sempat makan siang bersama teman-teman. Hari seperti inilah yang aku sukai, tidak membuat kepalaku menjadi terlalu berat dan badanku terasa remuk. Namun sayang, ada satu yang terlupa.
Hingga akhirnya aku pulang sekitar pukul 4 sore. Awan hitam menggelayut di langit. Ingin rasanya cepat-cepat sampai di rumah, aku tidak mau kehujanan di jalan. Tapi bus yang menuju daerahku tidak kunjung berangkat dari terminal tempatku menunggu—seperti pengalaman sebelumnya, aku lebih senang menunggu bus di gerbang keluar terminal.
Beberapa menit kemudian sebuah bus yang menuju ke daerahku muncul. Tak peduli bus itu sudah penuh, aku segera menaikinya—daripada kehujanan, pikirku. Alhasil, aku pun harus rela berdiri berdesakan dengan penumpang lain—pasti mereka juga buru-buru pulang karena menghindari hujan.
Ternyata hampir semua penumpang memiliki tempat tujuan yang jauh, jadi hingga mendekati daerahku, penumpang bus itu masih tetap penuh. Aku harus rela tetap berdiri selama kurang lebih setengah jam. Tidak ada firasat apa-apa ketika tiba-tiba seorang bapak berpakaian PNS menyenggolku cukup keras.
***
Benar saja. Uangku raib. Uang dengan jumlah cukup besar. Uang yang akan kutabung untuk persiapan tugas akhir. UANG HASIL JERIH PAYAHKU.
Selama beberapa hari aku tak bisa berkonsentrasi dengan baik. Mungkin bagi orang lain, uang sejumlah itu tidak begitu besar, tapi bagiku, bagiku itu sama sekali bukan uang yang sedikit. Untuk mengumpulkannya, aku harus rela tidak sempat makan, menahan kantuk, menahan berat di kepala, flu. Lalu uang itu hilang... Bagaimana urusannya? Kenapa sesuatu yang sulit didapat tapi begitu mudah hilang dari genggamanku? Apakah usahaku masih kurang keras juga?
Hampir saja aku mengumpat kesal dan mulai menyalahkan siapapun untuk melampiaskan perasaanku seandainya Bapak tidak datang dan menenangkanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar