Sabtu, 16 Maret 2013

Motivate Yourself (Edisi Era Mahasiswa)



Selamat, semangat, dan berjuang untuk hari ini! :D

Kali ini saya akan posting mengenai motivasi untuk ‘belajar’ yang 2 tahun yang lalu pernah saya sampaikan di depan mahasiswa baru jurusan Kesmas dan Gizi Unsoed dalam sesi training softskill singkat pada rangkaian acara orientasi mahasiswa atau yang lebih dikenal sebagai ospek. Materi ini benar-benar saya dedikasikan untuk mereka, atau mungkin kalian yang sekarang sedang membaca, para mahasiswa baru di segala bidang ilmu, lebih banyak berdasarkan pengalaman saya selama menjadi mahasiswa kesmas. Ok, let’s cekidot!

Untuk mengawali postingan ini—sesuai dalam materi yang saya sampaikan—saya akan menjelaskan dulu pengertian dari mahasiswa. Mahasiswa adalah sekelompok masyarakat terpilih yang memiliki masa depan yang strategis sebagai calon pemikir, pelaksana dan pemimpin untuk dapat  mengarahkan, mengembangkan dan membimbing cara hidup berbangsa dan bernegara. Kelihatan yang dicetak tebal? That’s the main point! Yup, mahasiswa itu dibentuk untuk bisa ‘berpikir’, namun juga sekaligus dapat ‘melaksanakan’, ‘memimpin’, ‘mengarahkan’, ‘mengembangkan’, dan ‘membimbing’ masyarakat dalam hidup berbangsa dan bernegara—atau lebih luas, dalam hidup sebagai manusia. Wow, hebat banget ya, mahasiswa itu. Kalau yang sudah lulus, berarti seharusnya sudah layak dong untuk melakukan tugas yang hebat itu (wah, saya jadi kesindir sendiri ini :D). Jadi kalau ada sarjana yang bisanya mikir doang, ngemeng doang, nyuruh-nyuruh doang, tapi tidak bisa melaksanakan, mengembangkan, atau membimbing orang lain, berarti gelar sarjananya perlu dipertanyakan itu... ^_^

Lalu, kenapa sih mahasiswa tidak disebut sebagai siswa saja seperti waktu SD, SMP, atau SMA? Kan sama-sama sekolah. Betul, mereka sama-sama sekolah, belajar, diajarin sama orang, tapi pada dasarnya mahasiswa adalah siswa yang sudah ‘maha’. Mereka dituntut mandiri, memilih alur belajar mereka, menentukan sendiri berapa lama mereka akan sekolah, dsb. Intinya, mahasiswa adalah siswa yang sudah dewasa, yang tak perlu didikte lagi dalam menjalani kehidupannya di perkuliahan.

Kemudian mengenai pilihan jurusan, seorang yang akan masuk kuliah diharuskan memilih jurusan yang paling ia cenderungi—entah karena suka, bercita-cita, atau merupakan mimpinya. Tetapi yang sering menjadi masalah adalah, pilihan jurusan seorang mahasiswa banyak yang bukan merupakan pilihannya sendiri, seperti pilihan orang tua, ikut-ikutan teman, atau bahkan ikut-ikutan trend. Lalu bagaimana kalau terlanjur tercebur dalam satu jurusan? Sebelum terlanjur tercebur, bagi teman-teman yang belum menjadi mahasiswa, akan lebih baik jika dari awal kalian mencari referensi tentang berbagai jurusan dan tentukan jurusan mana yang paling cocok dengan minat dan potensi kalian. Tetapi bagi yang sudah terlanjur tercebur, maka secara perlahan, terimalah pilihan itu dengan baik. Mungkin awalnya sulit, tapi bukan berarti tidak bisa. Carilah hal menarik atau poin dari bidang ilmu itu yang cocok dengan minat dan potensi kalian, sehingga kalian bisa mengikatkan diri dengan keterkaitan itu. Dan jangan pernah menganggap ada ilmu yang lebih baik dari ilmu lain. Misalnya, ilmu kedokteran dianggap lebih baik dair ilmu ekonomi, atau ilmu ekonomi dianggap lebih baik dari ilmu pertanian. Teman-teman, tidak ada hal seperti itu, semua ilmu sama, selama kita benar-benar total mempelajarinya dan memanfaatkan ilmu itu dengan baik untuk kehidupan bermasyarakat. Apakah dunia ini akan tetap berjalan jika semua orang menjadi dokter? Atau apakah dunia ini akan tetap berjalan jika semua orang menjadi pedagang? Terimalah. Jalanilah. Jika kalian merasa terjebak karena bidang ilmu lain sebenarnya lebih kalian sukai (karena hobi, dsb) maka pelajarilah ilmu itu di luar perkuliahan. Ini yang peru dicatat baik-baik, tidaklah mutlak bahwa ilmu harus dipelajari di bangku sekolah atau perkuliahan. Kalian bisa mempelajarinya di mana saja, asal ada kemauan dan kesungguhan. Misalnya, kalian adalah mahasiswa pertanian, tetapi sebenarnya sangat hobi menulis (jurnalistik). Maka tidak menjadi masalah jika kalian mengembangkan potensi menulis melalui media-media di luar perkuliahan, seperti organisasi, komunitas, atau kalian belajar sendiri (otodidak). Justru dengan begitu, terkadang seseorang bisa memiliki dual profesi, misalnya seorang agrobisnis yang juga novelis. Sangat banyak contoh nyatanya. Kalian kenal Deddy Mizwar? Beliau adalah salah satu senias hebat di Indonesia. Tapi apakah beliau lulusan jurusan seni? Tidak. Justru beliau adalah sarjana farmasi, yang kurikulum mata kuliahnya adalah mengenai jenis-jenis obat, cara meracik obat, dan bagaimana membaca resep. Apakah kemudian ia tidak dapat menyalurkan potensinya dan terjebak hanya menjadi seorang apoteker? Tidak. Justru jiwa seninya sangat teraktualisasi. Do you catch it? J

Jika hati telah mantap untuk menjalani perkuliahan dengan baik, lalu kemudian persoalannya adalah bagaimana kiat-kiatnya dalam belajar, maka inilah beberapa poin yang bisa saya sampaikan berdasarkan pengalaman pribadi selama kuliah:
1.    Kiat pertama: tanamkan keyakinan yang kuat bahwa semua ilmu itu bermanfaat. Tidak ada istilah ilmu kedokteran lebih baik dari ilmu pendidikan, atau ilmu ekonomi lebih baik dari ilmu sosiologi. SEMUA SAMA.
2.    Kiat kedua: munculkan ketertarikan pada ilmu yang akan kamu pelajari. Ketahui kelebihan-kelebihannya, sehingga kamu menyukainya.
3.    Kiat ketiga: tanamkan niat untuk belajar.
4.    Kiat keempat: duduk tegak atau posisi tubuh agak maju ketika dosen sedang mengajar.
5.    Kiat kelima: mencatat!
6.    Kiat keenam: segera tanyakan sesuatu yang tidak kamu tahu. Kalau dosen tidak memberi kesempatan bertanya, serahkan pertanyaanmu pada Mbah Google.
7.    Kiat ketujuh: hilangkan kantuk dengan cuci muka, corat-coret buku sebentar, atau bertanya pada dosen—pertanyaan apapun.
8.    Kiat kedelapan: cari hal menarik jika dosen yang mengajar, maaf, membosankan. Apa saja—tapi harus tetap memperhatikan kuliahnya dengan baik.
9.    Kiat kesembilan: hiasi/bentuk buku catatan menjadi menarik utk dibaca.
10. Kiat kesepuluh: usahakan datang lebih awal dan duduk di barisan depan.

Selama perkuliahan, saya memang menjalani 10 kiat itu, dan alhamdulillah semua dapat berjalan dengan baik. So guys, belajarlah dengan baik selama kalian masih dalam masa untuk belajar. Kehidupan itu memiliki step-stepnya tersendiri. Akan menjadi lebih nyaman jika kita rapi dalam menjalani setiap step-nya, tidak akan melanggar sana-sini.



Semoga bermanfaat!
Selamat, semangat, dan berjuang untuk hari ini! :D

4 komentar:

  1. ahaha.. sama2 dede astuti.. :)

    BalasHapus
  2. IPK nya ngga bagus deh,,telat si tau 10 kiat nya #ALESAN

    BalasHapus
  3. -_____________________- berarti traktir pancake sm es krim MP nih!

    BalasHapus