Jumat, 21 Desember 2012

(Cerpen) Kutulis untukmu


Oleh: Nena Fauzia

Kau adalah favoritku di kampus. Bukan berarti aku gay, tapi kau menjadi favorit bagiku karena keunikanmu menjalani hidup.
Aku memang bukan sahabat dekatmu, tapi bukan juga musuhmu. Aku hanya sering mengamatimu, karena tabiatku yang analitik menuntutku untuk menilisik tentang kehidupanmu yang unik.
Kau seperti mahasiswa-mahasiswa “culun” di TV, kata banyak teman. Tapi untuk beberapa alasan, menurutku tidak juga. Aku menyebut penampilanmu rapi, cukup begitu. Kau naik sepeda motor bututmu setiap hari, dan tanpa merasa canggung memarkirkannya dengan tenang di antara motor-motor besar milik teman-temanmu, termasuk motorku. Kaulah yang pertama kali masuk kelas untuk kuliah. Dan kau pula yang pertama kali keluar, entah untuk bergegas ke perpustakaan, atau melaju dengan motor bututmu, ke tempat kau biasa berkumpul dengan teman-temanmu yang sama rapinya dengan penampilanmu, sesama anggota organisasi kerohanian.
Saat zaman menuntutmu menjadi “alay” agar bisa bertahan hidup, kau tetap pada tabiatmu yang lebih banyak diam, santun, dan kemeja serta celanamu, tetap saja kau gunakan sebagaimana biasanya. Saat teman-teman meributkan agenda malam minggu, aku justru melihatmu sedang nongkrong di masjid bersama beberapa teman.
Kau adalah favoritku, karena kau berbeda dari yang lain. Aku tidak mencelamu, tapi aku hanya menyatakan, bahwa kau tampak menjalani hidup yang membosankan. Itu yang menarik, dan menggairahkanku untuk terus mengamati jalannya hidupmu dari waktu ke waktu.
Ingatkah, kau? Suatu sore kita bertemu di sebuah warung makan dekat kampus. Aku memesan paket nasi dan ayam goreng, sementara kau hanya memesan dua plastik kecil oseng kangkung dan oseng tempe. Lalu kau pergi dengan santai sambil melayangkan senyum padaku. Senyum hangat, seperti biasanya.
Tapi lain waktu aku bertemu denganmu saat shalat jum’at, aku bisa melihat kau memasukkan selembar uang kertas berwarna hijau muda ke dalam kotak infaq—aku tetap bisa melihatnya, serapi apapun kau menutupinya dengan kedua tanganmu.
Dan momen lain, aku melihatmu sedang ikut mengacung-acungkan tulisan berisi kecaman tindakan korupsi di perempatan pusat kota bersama dengan teman-temanmu yang juga berteriak-teriak keras, saat aku sedang jalan-jalan sore. Kau dan rombongan laki-laki berpenampilan rapi di satu sisi, dan perempuan-perempuan berjilbab dan rok di sisi lain. Aku berdiam sejenak saat melihat aksimu dan kawan-kawanmu. Baguslah, aku tak perlu capek-capek berdemo, karena kau dan teman-temanmu telah mewakilinya.
Tak banyak momenku mengobrol denganmu, tapi aku masih ingat betul, sore itu di masjid kampus, saat hujan sedang deras-derasnya mengguyur bumi, kita duduk di teras menunggu reda. Saat itulah, kau menyapaku, dan memberiku kesempatan untuk sedikit mengorek kehidupanmu yang sangat menarik bagiku itu.
“Assalamu’alaikum, Farid,” salammu padaku.
“Wa’alaikumsalam, Aldi,” jawabku.
“Kau juga lupa tidak membawa jas hujan?” tanyamu.
“Tidak juga, bisa dikatakan aku sengaja meninggalkannya, karena malas melipat dan memasukkannya ke bagasi motor,” jelasku.
Lalu kau tersenyum lebar, tapi bukan senyum bangga, tentu saja. “Bagaimana bisa, Farid? Kau kan tahu sekarang sedang musim hujan. Aku saja sangat menyesal kenapa tadi aku berangkat buru-buru, padahal biasanya aku tak pernah lupa membawanya. Memang setan sangat senang menyuruh kita untuk berlaku buru-buru, inilah salah satu akibatnya, membuang waktu untuk menunggu hujan reda.”
Itulah dirimu. Topik apa saja yang kau bicarakan, kau selalu membawa filosofi agama atau kearifan-kearifan dalam hidup. Aku pernah mendapatimu bercanda, tapi tak sesering orang-orang pada umumnya. Membosankan, dan semakin menarik bagiku.
“Aldi, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanyaku kemudian.
“Tentu saja,” jawabmu antusias.
“Apakah kau pernah bersenang-senang?” tanyaku tandas.
Kau mengernyit, lalu tersenyum—lagi. “Tentu saja, fitrah manusia menyukai kesenangan,” jawabnya.
“Maksudku, pernahkah kau sekedar nongkrong di alun-alun kota bersama teman-teman atau nonton konser?”
Kau terdiam sejenak lalu menepuk pundakku. “Itu kesenangan yang kau maksud?” Kau malah bertanya. “Pelajarilah konsep kesenangan atau kebahagiaan yang sebenarnya, kawan. Sekarang. Justru karena kita masih muda.”
Hujan memang mulai mereda, sehingga ada alasan bagimu untuk membiarkanku mengambang dalam keadaan penasaran. Kau pun segera bergegas setelah mengucap salam padaku.
Aku memilih tak langsung pulang karena sebenarnya gerimis kecil masih berantai turun. Kurebahkan tubuh di teras masjid sambil terus mencermati kata-kata terakhirmu dalam percakapan tadi. Kau bilang aku harus mempelajari konsep kesenangan yang sesungguhnya. Bukankah aku sudah sering mendengarnya? Di twitter, facebook, blog, yang ditulis oleh orang-orang yang menyatakan diri sebagai trainer dan terkesan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini. Tapi itu konsep yang berbeda, aku tak pernah melihat ada sisi membahagiakan yang membuat hidupmu bahagia, Aldi.
Saat iseng memejamkan mata, aku malah tertidur, dan terbangun karena dering ponselku yang terdengar memburu—setidaknya menurut perasaanku. Saat kuangkat, jawaban atas perasaanku yang tak enak pun muncul, aku mendapat kabar bahwa kau baru saja mengalami kecelakaan, dan meninggal di tempat.
Tak perlu kuungkapkan sehebat apa kekagetanku, saat itu aku justru terus terdiam di teras masjid.
***
Ramainya orang yang datang takziah ke rumahmu yang tak bisa dikatakan dekat dari kampus, ramainya ucapan belasungkawa di jejaring sosial, dan ramainya blog-mu yang menjadi buah bibir banyak orang sebagai blog penuh inspirasi, cukup menjadi sedikit tanda banyaknya orang yang mencintaimu.
Saat itu, aku melihat berbagai piagam penghargaan, plakat, medali, buku-buku karyamu yang terpajang rapi di rumahmu. Aku pun membatin, tidak bisakah sejak dulu kau menunjukkan prestasimu pada orang-orang? Agar orang-orang sepertiku mengerti bagaimana bergunanya hidupmu yang kelihatannya “membosankan” itu?
Kubaca semua artikelmu di blog, yang sebelumnya hanya selalu kulihat sebagai link yang membosankan di facebook. Ada konsep kebahagiaan yang kau bahas di sana—bahkan saking rendah hatinya dirimu, kau tak langsung menyuruhku membaca blog-mu, kau hanya menyuruhku belajar, tak mendikteku untuk melihat kehebatanmu menulis dan membahasnya.
Satu yang kupegang dari apa yang sudah kau ajarkan padaku melalui peninggalanmu yang abadi itu, bahwa kau menjadi bahagia karena kau berguna. Sekarang, justru karena kita masih muda.
Aku merasa bahagia ketika aku nongkrong atau nonton konser. Tapi kini aku berani mengatakannya sebagai kebahagiaan tanpa harga diri. Menuntut idealisme pun aku lebih memilih untuk diwakili.
Dan kini aku pun berani mengatakan, aku ingin hidup seperti dirimu, meski telah tiada, kau masih tetap bisa berbagi dengan orang lain, dan membuat mereka bahagia dengan apa yang kau bagi itu.
28 Oktober 2012, tepat di tanggal itu, kau berpulang, wahai pemuda. Pemuda yang bangkit, bukan berarti harus pamer fisik. Kontribusimu dalam nilai-nilai yang kau sampaikan dan amalkan, itulah yang membuat hidupmu bukan sekedar bahagia, namun juga berharga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar