Kamis, 21 Maret 2013

Eternal: Jajanan (Kemasan) Masa Kecil Abad 20

Hmm, sore yang cerah, tidak panas, tidak dingin, sejuk. Jadi kangen sama jajanan masa kecil (gubrak :D). Ya, tiba-tiba pengen share aja tentang jajanan masa kecil abad 20, tepatnya tahun 1995an sampai 2000an. Yuks kita intip! ^_^

1. Anak Mas


Ini adalah jajanan masa kecil paling fenomenal. Rasanya umami, lebih dari enak (agak lebay emang :D). Tapi beneran enak, jajanan nomor 1 favorit saya waktu kecil. Dulu ada yang bungkusnya biru dan emas juga. Tapi yang paling enak memang yang warna merah. Sekarang udah jarang banget yang jual anak mas klasik ini. Ada yang pernah jual, tapi pas saya pesen gak ada kabar jadi jualan apa gak -_-. Dulu saya beli 250an perak. Pengen lagiii T_T

2. Mie Krip Krip


Wah, ini nih jajanan fenomenal lainnya. MIE KRIP KRIP. Widih, yang ini juga umami banget rasanya. Murah banget lagi. Dulu saya pernah menjumpai masa di mana satu bungkus Mie Krip Krip cuma Rp 50! Kalo jaman sekarang, uang 50 perak aja udah gak ada bentuknya, dulu bisa dapet jajanan ini sebungkus (meskipun cuma sekali hop langsung abis, hehe).


3. Tini Wini Biti


Ada lagi nih Tini Wini Biti. Yang ini agak mahalan sih, biasanya yang beli anak-anak kaum elite sosialita gitu (cieh, bahasanya :D). Gak kayak Anak Mas yang lebih sering saya beli, kalau Tini Wini Biti cuma saya beli kalau dikasih uang jajan lumayan banyak sama ibu. Kadang harus nunggu momen pergi bareng ortu atau pas lebaran, hehehe. Snack ini juga lumayan umami. Ada banyak rasa juga, yang paling enak yang rasa sapi panggang, heheee.

4. Mie Remez


Kalau ini udah agak hampir 2000an, gak seklasik Anak Mas maupun Mie Krip Krip. Tapi rasanya tetep ngangenin juga, apalagi sekarang udah gak ada. Kalo Anak Mas dan Mie Krip Krip jaman jajanan merakyat, kalau mie remez udah masuk jaman jajanan menengah (apasih), ya maksudnya udah masuk harga rata-rata 500 per bungkus gitu, hehe.

5. Chiki Balls (versi klasik)

Kalo yang ini masih ada sampe sekarang, cuma ganti tampilan kemasan. Sebenarnya rasanya nggak terlalu khas, tapi yang khas itu adalah hadiahnya, tazos. Dulu anak-anak pada rame banget tuh banyak-banyakan ngumpulin tazos, sampe ditumpuk-tumpuk. Saya sih waktu itu gak ikut-ikutan, soalnya chiki balls juga termasuk jajanan anak-anak elite sosialita alias harganya lumayan mahal :P

6. Kerupuk Jengkol


Kalau ini sebenernya agak kontroversial, karena ada yang gak suka. Tapi saya suka, banget malah. Kalau dulu, bungkusnya gak kayak di gambar ini, tapi rasanya sama. Hmm, sensasi jengkolnya itu, mantapks! :D

Segitu dulu postingan kali ini, nanti saya share lagi deh jajanan masa kecil yang non kemasan (bukan pabrikan). Ada lagikah yang punya kenangan jajanan masa kecil kemasan lain? ^_^

Referensi: pengalaman pribadi :)

Selasa, 19 Maret 2013

Nada Minor dalam Lagu Korea

Asslm wr wb. Semangat untuk hari ini!

Sedikit banyak saya mengamati musik. Meski sekarang saya membatasi apa yang saya dengar, pada dasarnya jiwa seni (cieh, jiwa seni :P) saya tetap ada dan terus melekat dalam diri saya.

Kelas 3 SMP (tahun ajaran 2004/2005) adalah saat dimana saya mengenal yang namanya drama korea (dramkor) berikut soundtrack-nya. Saya dibuat tergila-gila, apalagi jaman itu serialnya adalah Endless Love dan Full House yang notabene ceritanya sangat memanjakan wanita, seperti dalam mimpi (tipikal cerita dramkor). Dan saya, adalah orang yang saaangat respek dengan soundtrack film/tayangan. Jadi, kalau saya suka sebuah film/serial/tayangan, saya pasti suka juga soundtrack-nya. Itu sudah terlihat semenjak saya kecil. Dulu keluarga saya suka banget serial Yoko (kalau tidak salah judul aslinya Pendekar Ular Putih). Saya pun ikut-ikutan demam serial itu. Saya minta dibelikan kaset soundtrack-nya. Waktu itu ortu saya membelikan yang asli, sampai saya dapat hadiah kaosnya. Saya ingat banget, waktu itu kaosnya warna pink dengan sablon Yoko dan Siluman Ular Putih di bagian depannya, hehe. OK, kembali ke topik awal. Saking sukanya sama soundtrack dramkor, saya mengoleksinya. Dan mungkin, lebih dari yang lain, perlahan-lahan saya mulai mengamati gaya musik Korea (terutama jenis soundtrack). Saya heran, kenapa sih lagu-lagu Korea (terutama yang soundtrack) selalu lebih mengena daripada lagu Indonesia sendiri? Saya tidak tahu apakah ini hanya kesimpulan subjektif, tapi saya hanya akan mencoba menjelaskan dari hasil pengamatan pribadi saya.

Yang ingin saya fokuskan di sini adalah mengenai nada minor dalam lagu Korea. Nada minor sendiri adalah nada not setengah. Kalau dalam tuts piano, nada minor muncul dari tuts hitam ketika tuts putih menjadi nada utama. Yah, itu yang bisa saya jelaskan sebagai pengamat musik amatir yang tidak pernah dapat tutorial musik resmi, hehe. Dan nada minor adalah salah satu yang menurut saya membuat lagu Korea menjadi kedengaran lebih mengena, terutama untuk jenis lagu 'galau', seperti soundtrack serial2 yang mengharu biru. Dan ternyata bukan hanya lagu soundtrack yang banyak menggunakan nada minor, tetapi juga hampir seluruh lagu Korea, dari lagu solo sampai lagu girlband dan boyband. Meski saya tidak terlalu suka dengan girlband dan boyband Korea (saya hanya menjadi korban dramkor dan soundtrack), tapi dengan hanya mendengar sekilas, memang ketahuan kalau nada minor sangat menjadi ciri khas lagu Korea. Kadang saya mengira sebuah lagu Korea akan membosankan dengan dominasi nada mayornya (seperti hampir semua lagu Indonesia), tapi ketika di tengah tiba2 muncul nada minor, lagu itu jadi tidak lagi membosankan. Begitulah, ciri khas kebanyakan (hampir semua) lagu Korea.

Selain nada minor, musisi Korea juga sangat rajin memasukkan instrumen koor biola/cello dalam sebuah lagu, meskipun itu lagu up-beat. Jadi, tetap ada kesan 'mewah' dalam sebuah lagu. Daaan, koor biola itu juga yang semakin menajamkan nada minornya. Saya pun iseng mengamati lagu Indonesia, ternyata jarang banget yang musiknya ada latar belakang koor biola-nya, hanya sedikit. Yang paling sering pakai ya Gita Gutawa, karena genre lagunya memang identik dengan koor biola. Selain itu saya cuma pernah dengar lagu Sania yang duet sama penyanyi cilik Rea Tata dengan judul lagu 'Ibunda'. Itu lagu pop biasa, tapi memakai koor biola dengan sedikit sentuhan nada minor, jadi lebih mengena. Karena itulah saya suka lagu itu, apalagi lagunya tentang Ibu :').

And then, lagu Korea juga banyak yang menggunakan efek 'imut' dalam lagunya. Kenapa saya bilang 'imut', karena efek itu memang biasanya digunakan dalam lagu anak-anak. Misalnya, bunyi tetesan air, bunyi 'cling-cling'. Aduh, gimana ya nulis bunyinya? Ya pokoknya bunyi imut gitu, deh. Bahkan di lagu penyanyi laki-laki sekalipun. Tapi itu memberi efek menarik, meski tidak se-signifikan pengaruh nada minor.

Nah, inti postingan ini sebenarnya adalah, saya ingin lagu Indonesia menjadikannya sebagai inspirasi dalam bermusik, supaya lagu-lagunya tidak membosankan. Dan, sebenarnya ini saya tujukan pada nasyid di Indonesia. Kebanyakan lagu-lagu nasyid di Indonesia terlalu berkutat pada nada-nada mayor. Ada juga yang bermain di nada minor, tapi dinamikanya kurang gimana gitu, terlalu konservatif. Kalau karena faktor-faktor yang saya sebutkan di atas lagu Korea bisa banyak disukai, sepertinya kiprah lagu nasyid juga akan lebih meluas ketika dinamika musiknya lebih diperkaya lagi. Yang pertama kali orang nikmati dalam sebuah lagu adalah melodinya, baru kemudian lirik. Kalau melodinya juga sudah membosankan, berani jaminkah akan banyak yang mendengar? Mungkin bagi orang-orang yang memahami makna lirik dengan baik tak terlalu peduli dengan melodi, tetapi kalau tujuannya untuk memperluas kiprah, maka beneran deh, perlu adanya enrichment melodi dan aransemen lagu. Contoh nasyid yang sudah kaya dinamika melodi dan aransemennya adalah nasyidnya Maher Zain, tapi kan itu munsyid luar negeri, terus Indonesia? :)

Alhamdulillah, kegilaan saya pada Korea mulai surut semenjak kuliah, terutama saat semester2 akhir, ketika proses terus menggodok saya agar dapat menjadi lebih baik. Saat ini saya masih menonton dramkor, tapi hanya sebatas selingan belaka dan menontonnya pun kalau sempat dan benar2 waktunya luang, longgar, lebar. Kalau dulu saat SMA, saya bela-belain nyewa vcd dramkor di rentalan dan nonton per hari sampai 3 jam nonstop (kacau banget -_-). Sekarang boro-boro. Seminggu bisa cuma satu episode, kalau pas lagi kumat pengennya. Lagu-lagu koleksi dari jaman ababil juga masih #terpampangnyata di arsip laptop, tapi alhamdulillah cuma dilirik kalau pas lagi 'kumat' minta selingan (haduh, -_-). Kalau dulu, playlist audio player laptop penuh dengan soundtrack dari berbagai macam dramkor (masa lalu yang kacau :|). Diambil untungnya saja, jadi bisa kasih masukan buat nasyid Indonesia. HIDUP NASYID! ALLAHU AKBAR! ^_^ Dan untuk passion pada Korea, sekarang lebih banyak saya salurkan pada bahasa dan huruf hangeulnya. Bukan lagi pada soundtrack dramkor, apalagi boyband dan girlband -_-. Konsen passion pada bahasa dan hangeul lebih edukatif dan tidak mubazir. Siapa tahu bisa jadi ladang profesi atau jembatan menuju level akademik yang lebih tinggi. Memudahkan saya meraih gelar master di sana mungkin? Aamiin.. ^_^

That's all. Tirulah yang baik, lupakan yang buruk. Hamachan, Hamagan! (Hamasah Cantik, Hamasah Ganteng!)

See ya
Wsslm wr wb

Sabtu, 16 Maret 2013

Motivate Yourself (Edisi Era Mahasiswa)



Selamat, semangat, dan berjuang untuk hari ini! :D

Kali ini saya akan posting mengenai motivasi untuk ‘belajar’ yang 2 tahun yang lalu pernah saya sampaikan di depan mahasiswa baru jurusan Kesmas dan Gizi Unsoed dalam sesi training softskill singkat pada rangkaian acara orientasi mahasiswa atau yang lebih dikenal sebagai ospek. Materi ini benar-benar saya dedikasikan untuk mereka, atau mungkin kalian yang sekarang sedang membaca, para mahasiswa baru di segala bidang ilmu, lebih banyak berdasarkan pengalaman saya selama menjadi mahasiswa kesmas. Ok, let’s cekidot!

Untuk mengawali postingan ini—sesuai dalam materi yang saya sampaikan—saya akan menjelaskan dulu pengertian dari mahasiswa. Mahasiswa adalah sekelompok masyarakat terpilih yang memiliki masa depan yang strategis sebagai calon pemikir, pelaksana dan pemimpin untuk dapat  mengarahkan, mengembangkan dan membimbing cara hidup berbangsa dan bernegara. Kelihatan yang dicetak tebal? That’s the main point! Yup, mahasiswa itu dibentuk untuk bisa ‘berpikir’, namun juga sekaligus dapat ‘melaksanakan’, ‘memimpin’, ‘mengarahkan’, ‘mengembangkan’, dan ‘membimbing’ masyarakat dalam hidup berbangsa dan bernegara—atau lebih luas, dalam hidup sebagai manusia. Wow, hebat banget ya, mahasiswa itu. Kalau yang sudah lulus, berarti seharusnya sudah layak dong untuk melakukan tugas yang hebat itu (wah, saya jadi kesindir sendiri ini :D). Jadi kalau ada sarjana yang bisanya mikir doang, ngemeng doang, nyuruh-nyuruh doang, tapi tidak bisa melaksanakan, mengembangkan, atau membimbing orang lain, berarti gelar sarjananya perlu dipertanyakan itu... ^_^

Lalu, kenapa sih mahasiswa tidak disebut sebagai siswa saja seperti waktu SD, SMP, atau SMA? Kan sama-sama sekolah. Betul, mereka sama-sama sekolah, belajar, diajarin sama orang, tapi pada dasarnya mahasiswa adalah siswa yang sudah ‘maha’. Mereka dituntut mandiri, memilih alur belajar mereka, menentukan sendiri berapa lama mereka akan sekolah, dsb. Intinya, mahasiswa adalah siswa yang sudah dewasa, yang tak perlu didikte lagi dalam menjalani kehidupannya di perkuliahan.

Kemudian mengenai pilihan jurusan, seorang yang akan masuk kuliah diharuskan memilih jurusan yang paling ia cenderungi—entah karena suka, bercita-cita, atau merupakan mimpinya. Tetapi yang sering menjadi masalah adalah, pilihan jurusan seorang mahasiswa banyak yang bukan merupakan pilihannya sendiri, seperti pilihan orang tua, ikut-ikutan teman, atau bahkan ikut-ikutan trend. Lalu bagaimana kalau terlanjur tercebur dalam satu jurusan? Sebelum terlanjur tercebur, bagi teman-teman yang belum menjadi mahasiswa, akan lebih baik jika dari awal kalian mencari referensi tentang berbagai jurusan dan tentukan jurusan mana yang paling cocok dengan minat dan potensi kalian. Tetapi bagi yang sudah terlanjur tercebur, maka secara perlahan, terimalah pilihan itu dengan baik. Mungkin awalnya sulit, tapi bukan berarti tidak bisa. Carilah hal menarik atau poin dari bidang ilmu itu yang cocok dengan minat dan potensi kalian, sehingga kalian bisa mengikatkan diri dengan keterkaitan itu. Dan jangan pernah menganggap ada ilmu yang lebih baik dari ilmu lain. Misalnya, ilmu kedokteran dianggap lebih baik dair ilmu ekonomi, atau ilmu ekonomi dianggap lebih baik dari ilmu pertanian. Teman-teman, tidak ada hal seperti itu, semua ilmu sama, selama kita benar-benar total mempelajarinya dan memanfaatkan ilmu itu dengan baik untuk kehidupan bermasyarakat. Apakah dunia ini akan tetap berjalan jika semua orang menjadi dokter? Atau apakah dunia ini akan tetap berjalan jika semua orang menjadi pedagang? Terimalah. Jalanilah. Jika kalian merasa terjebak karena bidang ilmu lain sebenarnya lebih kalian sukai (karena hobi, dsb) maka pelajarilah ilmu itu di luar perkuliahan. Ini yang peru dicatat baik-baik, tidaklah mutlak bahwa ilmu harus dipelajari di bangku sekolah atau perkuliahan. Kalian bisa mempelajarinya di mana saja, asal ada kemauan dan kesungguhan. Misalnya, kalian adalah mahasiswa pertanian, tetapi sebenarnya sangat hobi menulis (jurnalistik). Maka tidak menjadi masalah jika kalian mengembangkan potensi menulis melalui media-media di luar perkuliahan, seperti organisasi, komunitas, atau kalian belajar sendiri (otodidak). Justru dengan begitu, terkadang seseorang bisa memiliki dual profesi, misalnya seorang agrobisnis yang juga novelis. Sangat banyak contoh nyatanya. Kalian kenal Deddy Mizwar? Beliau adalah salah satu senias hebat di Indonesia. Tapi apakah beliau lulusan jurusan seni? Tidak. Justru beliau adalah sarjana farmasi, yang kurikulum mata kuliahnya adalah mengenai jenis-jenis obat, cara meracik obat, dan bagaimana membaca resep. Apakah kemudian ia tidak dapat menyalurkan potensinya dan terjebak hanya menjadi seorang apoteker? Tidak. Justru jiwa seninya sangat teraktualisasi. Do you catch it? J

Jika hati telah mantap untuk menjalani perkuliahan dengan baik, lalu kemudian persoalannya adalah bagaimana kiat-kiatnya dalam belajar, maka inilah beberapa poin yang bisa saya sampaikan berdasarkan pengalaman pribadi selama kuliah:
1.    Kiat pertama: tanamkan keyakinan yang kuat bahwa semua ilmu itu bermanfaat. Tidak ada istilah ilmu kedokteran lebih baik dari ilmu pendidikan, atau ilmu ekonomi lebih baik dari ilmu sosiologi. SEMUA SAMA.
2.    Kiat kedua: munculkan ketertarikan pada ilmu yang akan kamu pelajari. Ketahui kelebihan-kelebihannya, sehingga kamu menyukainya.
3.    Kiat ketiga: tanamkan niat untuk belajar.
4.    Kiat keempat: duduk tegak atau posisi tubuh agak maju ketika dosen sedang mengajar.
5.    Kiat kelima: mencatat!
6.    Kiat keenam: segera tanyakan sesuatu yang tidak kamu tahu. Kalau dosen tidak memberi kesempatan bertanya, serahkan pertanyaanmu pada Mbah Google.
7.    Kiat ketujuh: hilangkan kantuk dengan cuci muka, corat-coret buku sebentar, atau bertanya pada dosen—pertanyaan apapun.
8.    Kiat kedelapan: cari hal menarik jika dosen yang mengajar, maaf, membosankan. Apa saja—tapi harus tetap memperhatikan kuliahnya dengan baik.
9.    Kiat kesembilan: hiasi/bentuk buku catatan menjadi menarik utk dibaca.
10. Kiat kesepuluh: usahakan datang lebih awal dan duduk di barisan depan.

Selama perkuliahan, saya memang menjalani 10 kiat itu, dan alhamdulillah semua dapat berjalan dengan baik. So guys, belajarlah dengan baik selama kalian masih dalam masa untuk belajar. Kehidupan itu memiliki step-stepnya tersendiri. Akan menjadi lebih nyaman jika kita rapi dalam menjalani setiap step-nya, tidak akan melanggar sana-sini.



Semoga bermanfaat!
Selamat, semangat, dan berjuang untuk hari ini! :D

Jumat, 28 Desember 2012

A Long Visit a.k.a My Mom--Ada yang Tidak Beres dengan Sang Ibu


Poster Film A Long Visit (My Mom)

Ini adalah tulisan lama saya, tertanggal 6 Januari 2011 di arsip saya. Dulu saya posting di note FB, namun kali ini saya ingin mempostingnya lagi di blog ini. Check it out!

Banyak teman yang bilang film ini BAGUS, mengharu biru, dan pokoknya menyentuh hati. Saking meyakinkannya mereka bilang begitu, saya jadi semakin termotivasi untuk menontonnya. Beberapa hari setelah mendapat film-nya, saya langsung menontonnya. Mungkin karena ekspektasi yang terlalu berlebihan, akhirnya membuat saya jenuh menonton film ini. Pada awalnya saya menikmati alur cerita yang natural dan sangat “nyata” di kehidupan kita itu, tapi baru setengah dari durasi film, saya angkat tangan dan memutuskan untuk mematikan laptop saya. Saya pikir akan ada semacam “kejutan” atau apalah di tengah cerita, tapi nyatanya alur film tetap berjalan seperti itu. Mungkin memang A Long Visit dimaksudkan untuk dijadikan film yang datar tapi mengena, seperti The Way Home, Hearty Paws, Hachiko, atau Wedding Dress. Tapi, menurut saya—ini menurut saya J--keempat film tersebut lebih punya sedikit amplitudo dibanding A Long Visit.

Akhirnya saya merampungkan film itu beberapa hari kemudian. Saya penasaran, tapi bukan layaknya penasaran terhadap kejadian di dalam film itu, melainkan penasaran kapan si “kejutan” atau setidaknya sedikit “amplitudo” itu akan muncul. Dan memang, amplitudo itu muncul, tapi agak-agak di akhir. Ternyata, si anak perempuan kesayangan sang ibu sakit kanker dan meninggal di penghujung film—ending tipe film golongan atau digolongkan “datar tapi mengena”.

Kalau dari segi akting, film ini memang bagus. Sang ibu dan anak perempuannya bisa menerjemahkan skenario film yang dibuat sealami mungkin (seperti kehidupan sehari-hari) menjadi akting yang juga natural. Bagaimana ibu yang tidak berpendidikan berjuang membesarkan anaknya dengan penderitaan dan kekonyolan-kekonyolan yang banyak terjadi di sekitar kita, sang anak yang malu tapi sayang dengan ibunya yang norak tapi sangat mencintainya, dan sederet peristiwa-peristiwa lazim lainnya yang terjadi di kehidupan nyata. Film ini menjadi kubu seberang dari film-film laris yang dikatakan realistis tapi tidak realistis-realistis amat juga. Misalnya, ketika seorang gadis harus berjuang menghidupi diri dan keluarganya (atau harus berjuang untuk membayar utang yang ditinggalkan orang tuanya), ia lalu bertemu dengan laki-laki tipe pangeran tampan yang bertemu dengannya karena suatu KEBETULAN. Meski dari kalangan tidak punya, kebetulan gadisnya cantik, jadi endingnya pun... ya begitulah. Kalau dipikir-pikir, apa iya kita sering menemui fenomena semacam ini? Kalau kebetulan gadisnya tidak cantik (secara fisik) bagaimana? Atau yang laki-lakinya tidak tampan (secara fisik juga) bagaimana? Sudah begitu, kadang-kadang si gadis jadi rebutan juga. Laki-laki yang merebutkan masuk tipe pangeran tampan pula! Kalaupun ada kenyataan semacam ini, pasti sedikit. Padahal cerita tipe cinderella seperti ini buaanyak sekali dipakai untuk inti cerita dan laris manis di pasaran. Tapi tidak bisa dipungkiri, kisah-kisah seperti ini memang banyak disukai oleh masyarakat, terutama masyarakat yang mendambakan kehidupan ideal, sejenak mereka lari dari kenyataan dan bahagia dengan menonton serial yang beralur ideal itu.

Dibanding dengan kisah semacam itu, mungkin sesekali kita memang perlu menonton film-film yang lebih realistis dan natural, kita bisa bercermin terhadap diri kita sendiri, dan kadang menertawakan kekonyolan dalam film yang sering kita lakukan di dunia nyata. Seperti film A Long Visit ini, yang malah mungkin terlalu realistis.

Hal lain yang mengecewakan saya, selain “amplitudo” yang kurang greget, adalah pesan moral film ini yang kurang sempurna. Mungkin dari film ini, sang penulis cerita ingin menyampaikan pesan dengan tokoh utama ibu, yaitu tentang “sayangilah ibu”, “jangan membenci ibu”, “pengertianlah terhadap ibu”, dan sebagainya. Tetapi setelah menonton film ini, bukannya saya menangis karena terkenang sosok ibu yang begitu mulia, saya malah sungguh tidak suka dengan sosok ibu dalam film ini. BENAR-BENAR TIDAK SUKA.

Mari kita cermati dari tiap segmen film ini.

Pertama, film ini seolah-olah menunjukkan betapa besar kasih ibu kepada anaknya. Tapi anak yang mana? Di film ini, si ibu sangat sangat sangat menyayangi anak perempuannya, tapi anak laki-lakinya ia cueki mentah-mentah. Kalau pesan yang akan dibawa adalah besarnya kasih sayang ibu kepada anaknya, harusnya tokoh ibu dalam film ini juga menyayangi anak laki-lakinya (adiknya si anak perempuan kesayangan). Atau setidaknya bersikap sewajarnya, tidak cuek seperti itu. Kesan ibu mulia yang penuh kasih sayang terhadap anaknya (semua anaknya—red) menjadi gagal dibawakan dalam film ini, karena ia hanya mencurahkan kasih sayangnya pada anak perempuannya.

Kedua, film ini seolah-olah ingin menunjukkan betapa besar dan berat perjuangan seorang ibu untuk membesarkan anaknya. Tapi, film ini menunjukkan karakter sang ibu yang RELA melakukan APA SAJA demi anaknya, termasuk mendatangi peramal dan menawar harga makanan di pasar dengan begitu sadis. Tentu saja saya sebagai seorang muslim sangat tidak sepakat dengan hal ini. Kita boleh bekerja keras untuk suatu hal yang baik (termasuk membesarkan anak), tapi tidak sampai berbuat syirik dan mendzalimi orang lain.

Ketiga, film ini seolah-olah ingin menunjukkan rasa cinta yang total dari sang ibu untuk anaknya (anak perempuannya—red). Tapi, rasa cinta ini sungguh diekspresikan terlalu berlebihan. Sang ibu sangat tidak rela ketika anaknya mati, sampai menangis meraung-raung, bahkan berjanji untuk mati duluan. Karena ternyata tidak mati duluan, ia berjanji untuk segera menyusul anaknya dan bertemu dengannya di kehidupan berikutnya. Kehidupannya pun dihabiskan dengan hanya melamun dan ia menjalani semua aktivitas seolah-olah tanpa nyawa—sampai sebegitunya. Kembali lagi, dikemanakan anak laki-lakinya? Bukankah ia masih punya seorang anak laki-laki? Lalu ia juga punya cucu dan menantu yang baik. Mereka semua dikemanakan? Lagi, sebagai seorang muslim saya sangat tidak sepakat dengan hal ini. Sang ibu telah menempatkan rasa cinta yang pertama untuk anak perempuannya. Padahal, tingkatan cinta yang pertama adalah untuk Allah SWT. Dan yang keduapun untuk Rasulullah SAW. Tidak boleh kita cinta berlebihan pada harta, kekuasaan, kecantikan, ketampanan, bahkan pada anak. Kita juga tidak boleh menangisi orang yang sudah meninggal dengan berlebihan, sampai meraung-raung, mengutuk, dan bahkan mempengaruhi perjalanan kehidupan kita selanjutnya. Kita harus merelakan setiap nyawa yang pergi meninggalkan kita, agar ia pun bisa pergi dengan tenang.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan yang saya cermati itu, kembali saya menyampaikan bahwa mungkin film ini memang ditujukan untuk menunjukkan realita yang ada dalam hidup kita. Mungkin sang penulis cerita pernah menjumpai sosok ibu dengan karakter semacam itu, atau bahkan mengalaminya sendiri. Tidak bisa dipungkiri, di dunia nyata ini ada sosok ibu dengan karakter seperti itu, dan penulis cerita ingin menunjukkan bahwa “ini lho, ada ibu yang sayang sama anaknya sampai sebegitunya...”. Kalau memang tujuan film ini hanya sekedar mencuplik realita dalam kehidupan ini, film ini cukup bagus, karena kedalaman peran ibu dan anak yang natural. Tapi kalau film ini ditujukan untuk membawakan pesan moral, saya rasa masih ada yang kurang pas.

That’s all. Itulah hasil cermatan saya tentang film A Long Visit a.k.a My Mom. Mungkin terkesan subjektif, dan mungkin saja hasil cermatan orang lain akan berbeda. But it doesn’t matter, semua orang punya pendapat masing-masing :)

The Hunger Games—Parodi Dunia Saat Ini



Poster Film The Hunger Games



Cover Novel The Hunger Games


Kakak saya hobi menyewa film dari rentalan. Terkadang film yang beliau sewa bagus, tapi tak sedikit juga yang salah pilih (piss, sista :D). Yang terakhir, beliau menyewa dua film, The Hunger Games dan Mirror Mirror. Waktu saya melihat The Hunger Games yang beliau sewa, saya langsung berkomentar, “ini baru benar!” Tumben, kakak saya berhasil menyewa film box office. Kakak saya selalu memasuki rentalan film dengan buta—ya, buta film. Tidak seperti saya yang sering repot-repot cari referensi by googling sebelum memilih film, kakak saya langsung saja pergi ke rental dan memilih di sana—hanya berpedoman pada sinopsis yang kadang tidak sesuai dengan ekspektasi.  Mungkin karena beliau memang sibuk bekerja, sehingga tak sempat cari-cari referensi seperti saya. Saat mendengar komentar saya itu, kurang lebih beliau hanya bilang, “aku melihat poster film itu dipajang di kaca depan rental.” Aku bersyukur rentalan memajang poster film itu di sana :D

The Hunger Games adalah film jawara box office tahun lalu. Saya dan kakak saya sama-sama penggemar film, tetapi juga sama-sama tak pernah pergi ke bioskop. Ketika ada film bagus rilis, kami tak pusing-pusing meluangkan waktu ke bioskop. Dengan sabar, kami menunggu vcd atau dvd film itu disewakan di rentalan. Kami berdua punya prinsip, menikmati film bukanlah harus buru-buru saat film masih fresh supaya kita bisa ikut nimbrung ketika orang-orang ribut membahasnya. Kami mengedepankan kenyamanan dalam menonton. Menonton di rumah adalah cara paling nyaman buat kita. Kita bisa menonton sambil makan rujak (bukan hanya makan popcorn), tiduran, tengkurap, dan yang paling asyik, kita bisa mem-pause film ketika kita harus melakukan sesuatu tetapi tak ingin ketinggalan setiap adegannya—misalnya ke kamar mandi, mengangkat jemuran, atau disuruh Ibu membeli garam di warung. Meski kami menonton dalam kondisi film ‘sudah basi’ dalam bahasan orang-orang, tetapi bagi kami intinya tetap sama: kita dan mereka sama-sama sudah nonton! ^_^

OK, saya tidak akan membahas terlalu banyak mengenai kebiasaan kami menonton film di rumah. Karena, inti dari tulisan ini adalah mengenai komentar saya terhadap isi cerita film The Hunger Games. Sebelum memasuki inti, saya ingin mengingatkan kepada siapapun yang membaca artikel ini, bahwa ini hanyalah pendapat saya, dan murni saya tuliskan dari apa yang ada di benak dan pikiran saya setelah saya menonton film ini.

Ketika film ini baru rilis di negerinya, saya membaca sinopsisnya sekilas. Dari posternya pun sudah kelihatan, ini film action fantasi. Sebenarnya saya tidak begitu tertarik dengan film action, apalagi panah-panahan, seperti gambar posternya. Tapi karena film ini menjadi jawara pada saat itu—dengan arti banyak orang yang suka, saya pun bersemangat ketika kakak membawa pulang vcd sewaannya ke rumah. Saat saya mulai menonton, rasa tertarik pun langsung muncul. Ternyata ini bukan sekedar film action fantasi, tapi juga thriller. Thriller adalah salah satu genre film favorit saya. Tak pelak lagi, langsung saya habiskan film itu hari itu juga.

Bagi yang sudah menonton, pasti sudah hafal dengan jalan ceritanya. Bisa ditebak dari judulnya, The Hunger Games adalah film yang bercerita tentang sebuah permainan. Tadinya, saya pikir film ini akan menonjolkan keunggulan utama dari kemampuan sang lakon dalam menjalani permainan hingga sukses sampai akhir. Tetapi lebih dari itu, film yang diangkat dari novel karya Suzanne Collins ini menunjukkan tentang potret dunia yang saat ini tengah terjadi, lewat berbagai macam sindiran a la TV show dan orang-orang dengan dandanan mencolok a la opera yang ditunjukkan dalam film ini. Kalau boleh saya bilang, film ini adalah sebuah parodi dari kenyataan hidup yang terjadi sekarang.

Film The Hunger Games punya setting negara tersendiri. Tadinya saya menduga ini dikarenakan film ini merupakan film fantasi, tetapi saya tidak melihat adanya penjelasan apapun di awal—tak ada narator yang terlebih dahulu bercerita, “dahulu kala, di sebuah negeri ratusan tahun yang lalu, bla bla bla...” atau “di sebuah negeri tak terjamah, bla bla bla...”—film ini hanya memunculkan penjelasan singkat secara tertulis, yang intinya menjelaskan bahwa The Hunger Games merupakan nama sebuah permainan yang merupakan tradisi sebuah negara bagian yang dalam film itu hanya disebut sebagai ‘The Capitol’. Setelah saya menilik wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/The_Hunger_Games), ternyata dalam novelnya dijelaskan bahwa negara latar cerita The Hunger Games berada pada zaman apokalips bernama Panem—ya pantes, fantasi banget.

Permainan ini diciptakan dalam sebuah perjanjian atas pengkhianatan karena dahulu terjadi pemberontakan dari 12 distrik yang berada di bawah kekuasaan The Capitol. Setiap tahun, keduabelas distrik harus mengirimkan 1 orang remaja laki-laki dan 1 orang remaja perempuan untuk mengikuti The Hunger Games sebagai bentuk ‘penebusan dosa’ atas pemberontakan yang pernah mereka lakukan—meskipun mungkin para pemberontak yang asli sudah meninggal jauhari sebelumnya, dan para remaja yang sekarang terlibat dalam permainan itu pun tak pernah menyaksikan pemberontakan yang selalu disebut-sebut oleh para bangsawan dari The Capitol itu. Yang semakin membuat permainan ini terlihat mengada-ada, hanya ada satu pemenang dari permainan ini dengan semua lawan (23 orang) harus mati—entah karena terbunuh atau karena terkena jebakan, infeksi, keracunan, dehidrasi, dsb. Saat saya mencari arti kata ‘hunger’ di kamus, artinya pun menunjukkan kesan permainan itu, yaitu kelaparan atau keinginan yang amat sangat. Ya, ketika seorang pemain The Hunger Games ingin menang, ia akan menjadi seseorang yang ‘kelaparan’ dan tega menghabisi para remaja yang seharusnya bisa ia jadikan teman.

The Hunger Games mengharuskan para pemain tinggal di sebuah wilayah hutan—yang ternyata di-setting sedemikian rupa oleh Gamemaker, seseorang yang dipercayai presiden The Capitol untuk mengatur dan mengontrol jalannya permainan. Awalnya saya kira 24 remaja itu dilepas di hutan belantara real, tetapi ternyata mereka dilepas di sebuah hutan buatan Gamemaker. Bahkan dunia penduduk negara itu pun ‘buatan’, dengan pimpinan teratas seorang presiden. Mereka harus saling membunuh, berebut perbekalan, menghindari jebakan-jebakan yang di-setting Gamemaker, atau setidaknya bertahan hidup sendiri. Sampai akhirnya yang tersisa hanya satu orang pemain, dan ialah yang akan menjadi pemenangnya. Setidaknya ‘pemenang’ menurut apa yang di-setting Gamemaker.

Jelas sudah, negara dalam film ini tak mungkin ada di dunia ini, karena kita punya HAM. Tapi benarkah itu? Benarkah negara seperti negara pembuat The Hunger Games ini tidak ada di dunia ini? Jika kita merenung lebih dalam, maka akan jelas terlihat bahwa permainan seperti The Hunger Games hanyalah sebuah parodi kecil dari apa yang sedang terjadi di dunia ini. Sebuah skenario saling menghancurkan dengan janji kemenangan tengah dijalankan oleh seorang ‘Gamemaker’ dan kita semua di dunia ini sebagai pemainnya! Inilah inti yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini.

Saya menikmati alur cerita film ini, meski dengan penuh rasa ngeri, sebagai sebuah film fantasi biasa—yang ingin menyatakan bahwa ‘di dunia manapun, kebaikan akan selalu menang’—seperti ketika saya menonton Harry Potter, Narnia, Lord of The Rings, dsb. Namun anggapan itu perlahan mulai berubah ketika saya melihat bahwa permainan di The Hunger Games ternyata disiarkan sebagai sebuah TV show di negara tersebut, dan ditonton oleh semua penduduk dari 12 distriknya. Dalam film ini diceritakan bagaimana Gamemaker meminta pertimbangan-pertimbangan presiden ketika The Hunger Games sedang berlangsung, bagaimana sebuah drama percintaan digembar-gemborkan oleh presenter yang layaknya seorang komentator sepak bola ketika menyiarkan tentang jalannya The Hunger Games, bagaimana Gamemaker selalu berpikir agar The Hunger Games terlihat sebagai sebuah tontonan yang menarik bagi masyarakat (tanpa peduli permainan itu akan mengambil 23 nyawa remaja), bagaimana seorang penasehat tiap distrik (dalam hal ini distrik 12 yang merupakan distriknya sang tokoh utama) menasehati bahwa si tokoh utama, Katniss Everdeen, harus menjawab bahwa ia memang benar-benar mencintai teman satu distriknya, Peeta, agar Gamemaker dan penonton senang, bagaimana Katniss dan Peeta terlihat saling jatuh cinta saat menjalani permainan namun saat pulang ke distriknya sebagai pemenang mereka menyatakan harus melupakan semua apa yang sudah terjadi di antara mereka, dan bagaimana sewenang-wenangnya Gamemaker dalam membuat aturan permainan dengan tujuan mengocok emosi pemirsa. Ketika Katniss berhasil menjauh dari musuh-musuhnya dalam permainan, hingga terlalu jauh dan tidak terjangkau, Gamemaker menyuruh para stafnya untuk menciptakan kebakaran hutan sehingga Katniss harus kabur dari tempat persembunyiannya dan mendekat ke area musuh-musuhnya. Ketika kisah cinta Katniss dan Peeta menjadi menarik di mata pemirsa, Gamemaker mengubah peraturan The Hunger Games, bahwa pemenangnya boleh dua orang, asal sama-sama dari satu distrik. Untuk menggiring Katnis dan Peeta bertanding dengan seorang lawan lagi yang bernama Cato, Gamemaker pun menyuruh stafnya membuat anjing ganas untuk mengejar mereka hingga mereka lari dan bertemu Cato. Namun ketika Katniss dan Peeta berhasil memenangkan permainan, Gamemaker mendadak mengumumkan bahwa peraturannya kembali ke awal, bahwa hanya boleh ada satu pemenang. Ketika Katniss dan Peeta memutuskan untuk sama-sama bunuh diri, Gamemaker menghentikannya, dan akhirnya mereka berdua tetap bersama-sama menjadi pemenang The Hunger Games. Adegan di bagian akhir, meski tidak ditunjukkan secara langsung, Gamemaker bunuh diri dengan memakan buah berry beracun, karena ia merasa gagal menjalankan permainan itu. Katniss tak mau membunuh Peeta, tidak seperti kehendaknya.

Terlepas dari ide cerita yang GILA karena menggampangkan penciptaan makhluk dan kejadian—kebakaran hutan, anjing ganas, dan segala yang ada di permainan itu diciptakan dengan teknologi komputer oleh Gamemaker dan para stafnya—sekali lagi, film ini sebenarnya merupakan parodi dari kehidupan saat ini, bahwa ada ‘Gamemaker’ menyetting berbagai huru-hara yang terjadi di dunia saat ini.

Sebutlah, USA dan para sekutunya, yang Yahudi, atau berpehamaman buruk itu. Apa sih yang sekarang tidak berada ‘di bawah kendalinya’? Bahkan sampai pada hal-hal yang tak disadari pun kini berada di bawah pengaruhnya. Dunia ini bagaikan ajang permainan bagi pihak-pihak tersebut. Dibikin kacau, diadu domba sana-sini, dibikin ribut. Dan kenapa kita mau dibikin ribut? Karena ada harapan kemenangan yang diiming-imingkan di sana, sehingga para boneka yang diadu memiliki ‘hunger’. Dan kenapa mereka membuat permainan ini? Tidak lain karena dengan membuat, maka merekalah yang otomatis menang. Semua diatur sedemikian rupa agar semua berada di bawah kehendaknya, dan bukan mereka yang menang dalam permainan yang menjadi pemenangnya, tetapi si pengatur permainan itulah pemenang sebenarnya. Meski melalui jalan yang BURUK.

Mereka menggunakan segala macam taktik, menyetting berbagai keadaan, dan menetapkan peraturan yang sewenang-wenang seperti Gamemaker dalam The Hunger Games untuk mengadu domba orang-orang, atau golongan-golongan, atau bahkan bangsa-bangsa sehingga mereka pada akhirnya porak-poranda dan sang Gamemaker-lah yang menang. Jika Gamemaker dalam The Hunger Games menciptakan permainan itu dengan alasan sebagai bentuk penebusan dosa atas pemberontakan orang-orang dari distrik, maka, sebagai contoh, Yahudi menciptakan peperangan dengan alasan membela haknya sebagai bangsa yang dulu mengalami tragedi Holocaust. Jika Gamemaker menciptakan kebakaran hutan untuk menggiring Katniss mendekat kepada musuhnya, maka Amerika mengebom gedung tertingginya untuk melancarkan tuduhan teroris kepada umat Islam sehingga memancing kerusuhan. Dan lebih luas, mereka melakukan permainan semacam The Hunger Games untuk seluruh dunia, sehingga mereka benar-benar berkuasa atasnya. Mereka tak pernah sadar, mereka bahkan tak punya kuasa untuk menurunkan air hujan dari langit.

Sebagai muslim, saya benci dengan hal ini, yang menganggap orang lain, golongan lain, bangsa lain, sebagai boneka. Saya percaya dengan satu kemenangan, yaitu kemenangan Islam. Allah menjanjikan kemenangan bagi Islam, itu mutlak. Kenapa saya sangat percaya? Karena Islam akan menang dengan cara apapun yang Allah kehendaki. Tak perlu kami repot-repot merancang permainan, mengadu domba, membikin huru-hara, itu hal yang PAYAH. Ketika dunia ini damai, dan umat agama lain tak menyerang kita secara frontal, Allah pun melarang kita menyerang mereka secara frontal. Kita cukup hidup apa adanya sebagai seorang muslim, berdakwah secara santun, tidak neko-neko, TIDAK MENEROR. Bagi mereka yang cerdas, mereka akan dengan sendirinya jatuh cinta dengan ajaran kita. Satu per satu akan meminta bergabung dengan kita, dan perlahan tapi pasti Islam-pun menang. Dan jika dunia ini ribut, mereka menyerang kita secara frontal, barulah kita diperbolehkan balas menyerang, namun itupun dengan berbagai kesantunan yang juga seharusnya menyadarkan di antara mereka yang cerdas. Islam akan menang, itu mutlak.

Ketika dunia ini sudah terlanjur ‘di bawah kendali’ mereka (hanya kiasan, karena kendali tertinggi tentu hanya pada Allah SWT), maka kita harus bertindak melawan aturan permainan mereka. Seperti Katniss, yang tidak mau membunuh Peeta, tapi malah memutuskan bunuh diri bersama-sama, karena bukan kemenangan di mata orang-orang yang ia cari, namun solidaritas—bukan bermaksud menyatakan bahwa bunuh diri dan cinta-cintaan sebelum nikah itu boleh, tetapi hanya mengambil hikmah atas keputusannya ‘membangkang dari peraturan’. Toh akhirnya Gamemaker malah bunuh diri. Jangan kita terus hanyut dalam aturan yang mereka buat dan akhirnya menjadi budak mereka, tetapi bagaimana kita melangkah keluar hingga dapat menjatuhkan mereka dan kemenangan pun ada di tangan kita, ISLAM. Jangan dahulu berpikir terlalu berat. Bahkan Syaikh Adnan A’li Ar-Rantisi, imam besar Masjid Gaza Palestina, ketika ditanya seorang pemuda di Masjid Fatimatuzzahra Purwokerto tentang bagaimana upaya yang dapat dilakukan pemuda Indonesia untuk membantu dalam konflik di Palestina, beliau hanya menjawab bahwa cukup shalat berjamaah secara rutin selama satu tahun penuh dan menghafal Al-Qur’an, beliau tidak menyuruh pemuda itu untuk berangkat berperang ke Palestina.

Salah satu yang juga mencirikan bahwa film ini adalah sebuah parodi, yaitu make up penduduk The Capitol yang berlebihan. Semua penghuni The Capitol berdandan a la festival. Singkat saja, poin ini mencirikan banyaknya manusia yang memakai ‘topeng’ untuk menutupi jati diri mereka. Mereka, orang-orang The Capitol itu, bahkan sangat menikmati setiap jalannya The Hunger Games.

The Hunger Games adalah parodi ringan dari apa yang terjadi di dunia, dan juga, parodi berat dari TV show yang sekarang sedang menjamur di dunia pertelevisian termasuk Indonesia. Dulu, saya sempat percaya bahwa reality show adalah benar-benar kejadian nyata yang direkam kamera, tetapi semakin ke sini, saya semakin sulit membedakan mana yang ‘reality’ show dan mana yang sinetron. Saya mulai curiga ketika reality show mulai lebay dalam menampakkan kesedihan orang-orang dalam acara tersebut, atau jalan ceritanya seperti sudah tertebak layaknya di sinetron. Semuanya ternyata hanya settingan.

Ketika rating reality show tersebut turun, maka salah satu cara jitu adalah meramu cerita yang dapat menarik pemirsa—yang paling sering adalah mengeksploitasi kesedihan dengan memaksa orang-orang dalam reality show tersebut menangis. Kalau belum menangis, maka sang host akan memancing, memancing, dan memancing terus sampai ia sesenggukan sendiri. Cara jitu kedua adalah, meramu kisah cinta lokasi—ini seperti yang terjadi di The Hunger Games, dan di sana ditunjukkan bahwa penonton menyukainya. Terkadang sang pembuat acara hanya membumbui apa yang sudah terjadi secara nyata, tetapi tak jarang juga, mereka tidak hanya sekedar membumbui, tetapi membuatnya dari awal. Manusia memang senang berkhayal, sehingga mereka tak tertarik jika apa yang ditayangkan di TV datar-datar saja seperti hidup mereka. Kalau boleh, saya menganjurkan reality show yang pura-pura real untuk mengaku secara baik-baik bahwa kisah dalam acara mereka HANYA FIKTIF BELAKA.

Well, semua bersimpul pada evaluasi fenomena yang terjadi saat ini. The Hunger Games hanya sebuah film, yang saya analisa menurut jalan pikiran saya—entah sejalan dengan pemikiran si penulis novel dan sutradara film-nya atau tidak. Tetapi yang jelas, apalah arti fasilitas blogging jika saya tak boleh menulis apa yang ada dalam pikiran saya ini? Saya pun tak pernah mengira, bahwa pemikiran saya jika dituliskan ternyata sebanyak ini.

Dan, setelah saya selesai menulis artikel ini, saya iseng menilik tribunnews (http://www.tribunnews.com/2012/03/22/kisah-the-hunger-games-terinspirasi-perang-irak) terlebih dulu sebelum memposting artikel ini ke blog. Saya mendapati bahwa ternyata Suzanne Collins memang benar-benar menulis novel ini karena terinspirasi dari fenomena reality show yang diikuti para pemuda untuk memperebutkan jutaan dollar, sementara saat itu juga ia melihat sebuah perang sedang terjadi di belahan dunia lain, yaitu Irak. Ia bahkan mengunggah sebuah video di youtube yang menegaskan bahwa ia tengah berusaha menggugah sikap kritis pemuda atas apa yang sedang terjadi saat ini.

Meski saya tidak bilang novel dan film ini 100% bagus, saya salut. Novel dan film ini benar-benar bisa menerjemahkan kritikan ke dalam sebuah film yang juga dapat dipahami oleh orang awam seperti saya. Dan satu hal lagi, karena ini novel dan film kritikan, maka ia hanya digunakan untuk menyadarkan kita yang belum sadar terhadap fenomena yang sedang dikritisi itu, bukan menjadi contoh bulat-bulat J

Senin, 24 Desember 2012

Berbagi Secuil Keterampilan


Foto Bersama Pelatihan Pembuatan Kerajinan Kain Flanel PAUD Sabilul Huda



Karya Asesoris Flanel Ibu-ibu PAUD Sabilul Huda (Bros Gulung Bunga, Bros Pita, Bros Jait Kapas, Dompet Receh/Tempat HP Berperekat)



Ibu-ibu PAUD Sabilul Huda Bersemangat Berlatih Membuat Asesoris Flanel


Alhamdulillah, hari ini terlaksana juga pelatihan pembuatan asesoris flanel di PAUD Sabilul Huda, Desa Rancamaya, Kec. Cilongok, Kab. Banyumas, Jawa Tengah (lengkap :D). Meskipun kerajinan tangan dari kain flanel sudah sangat merajalela saat ini, tetapi, bagi ibu-ibu di PAUD tersebut flanel masih merupakan hal baru. Tak rugi pula jika pelatihan flanel diadakan, karena meskipun saat ini banyak produk flanel di pasaran, tetapi yang kualitasnya bagus juga tidak banyak. Setidaknya, ketika PAUD Sabilul Huda ingin merintis usaha di bidang tersebut, kualitas produk harus dinomorsatukan.

Saya bukanlah ahli di bidang per-flanel-an, hanya memiliki pengalaman membuat beberapa kerajinan tangan dari kain flanel, sehingga Ustadzah Tri (pengelola PAUD Sabilul Huda) mempercayai saya untuk melatih para ibu wali murid PAUD tersebut. Dan hari ini, Senin 24 Desember 2012, merupakan pertemuan pertama kami. Alhamdulillah, ibu-ibu yang mengikuti pelatihan berjumlah 8 orang, meskipun jumlah seluruh wali murid sebenarnya ada 25 orang. Tetap ambil positifnya--semakin sedikit peserta, semakin efektif sebuah pelatihan.

Janjinya pun dimulai jam 8, dan saya sudah berusaha on time. Tapi namanya juga ibu-ibu, pasti banyak urusan rumah tangga di pagi hari, jadilah acara baru dimulai jam 9 pagi. Pelatihan dilakukan dari asesoris flanel termudah dulu, yaitu bros pita. Kemudian meningkat ke bros bunga gulung, bros jait isi kapas, dan dompet berperekat. Ibu-ibu pun berhasil membuat karya-karya tersebut dengan baik. Meski mereka baru pertama kali membuat kerajinan dari kain flanel, namun karya mereka sudah cukup bagus dan kreativitas mereka sudah terlihat.

Insya Allah, ke depannya, pelatihan ini akan dilaksanakan pada minggu terakhir setiap bulannya. Dan semoga, kelompok kecil ini dapat menjadi embrio untuk kelompok usaha flanel, yang memberdayakan para ibu rumah tangga di Desa Rancamaya. Bismillah, semoga Allah mengizinkan.

Saya sendiri, sebagai pihak yang dipercaya melatih para ibu, merasa senang terlibat dalam kegiatan ini. Saya sangat senang melihat para ibu antusias ketika memotong kain flanel, menempel, menjahit, hingga berfoto bersama di akhir pelatihan hari itu--meski diiringi teriakan-teriakan dan keributan yang dibikin oleh para balita PAUD yang merupakan puta-putra putri para ibu ^_^. Ternyata, hobi yang juga saya gunakan sebagai ajang mencari uang saku selama kuliah bisa bermanfaat saat ini, yang notabene telah lulus dan tengah dalam masa kerja. Di sinilah kesempatan saya untuk berbagi dengan orang lain, meskipun apa yang saya bagikan tidak seberapa. Hanya secuil :).

Jumat, 21 Desember 2012

It's Me - Perfect Melancholic

Begitu saya selesai membaca buku psikologi tentang kepribadian karya Florence Littauer beberapa tahun yang lalu, saya langsung dapat menyimpulkan dengan mudah, bahwa saya adalah perempuan dengan kepribadian melankolis sempurna (benar-benar melankolis). Jangan artikan melankolis sebagai istilah yang selama ini sering kita gunakan (mellow, suka nangis, cengeng, dst). Melankolis sempurna adalah salah satu jenis kepribadian seseorang yang ciri utamanya bersifat suka menganalisis, detail, pemikir, perfeksionis, cenderung pendiam, dan kadang, saya membaca di literatur bahwa pribadi melankolis biasanya pribadi yang malang di antara pribadi yang lain. Karena orang melankolis cenderung suka mengalah, hampir selalu menerima amanah yang diberikan padanya, dan memang, terkadang merasa bersalah ketika tengah bersenang-senang (contoh kecil, ia merasa bersalah telah menghabiskan waktu 2 jam untuk menonton film--meskipun sebenarnya ia memang butuh hiburan setelah 10 jam bekerja).

Saya pernah membaca tentang perumpaan seorang melankolis di antara sosok pribadi jenis lain, bahwa ketika sebuah keluarga mengadakan acara makan bersama, seorang ibu dengan pribadi tersebut sibuk sendiri menyiapkan acara sesempurna mungkin, lalu mencuci semua piring begitu acara selesai. Ia berharap ada keluarganya yang memahami bahwa ia juga butuh bantuan untuk menyelesaikan pekerjaan itu, namun ia tak mau meminta secara langsung, ia hanya menunjukkan bahwa ia tengah bekerja. Namun, orang-orang di sekitarnya yang berkepribadian sanguinis (supel, periang, suka bicara), koleris (tegas, diktator, pandai memimpin), dan plegmatis (tenang, santai, cenderung lamban) tidak ada yang menyadarinya dan terus larut dalam kemeriahan acara keluarga. Sang melankolis hanya bisa menangis di dapur sambil terus mencuci piring.

Itu bisa saja terjadi secara nyata. Karena saya sebagai seorang melankolis pun pernah mengalaminya, meski kasusnya bukan mencuci piring di acara keluarga. Tapi saya pernah bertekad bahwa saya ingin membuktikan bahwa orang melankolis bukanlah pihak 'malang' di antara pribadi yang lain. Memang karakter dasarnya seperti itu, tetapi saya ingin orang-orang di sekitar saya tahu, bahwa kemalangan yang biasanya terjadi pada seorang melankolis adalah pengorbanan yang patut dihargai. Saya tidak sedang mengagung-agungkan diri saya, karena orang yang berkepribadian melankolis di dunia ini bukan hanya saya, tapi jutaan orang. Saya membelanya atas nama 'pribadi melankolis' bukan atas nama saya sendiri.

Banyak orang melankolis di sekitar saya yang mengalami yang katanya 'kemalangan' itu. Tapi saya tak akan mengatakannya sebagai 'kemalangan', melainkan 'pengorbanan'. Ya, pengorbanan. Apa jadinya kalau di dunia ini tidak ada orang melankolis? Meski semua jenis pribadi juga bisa melakukan pengorbanan, tapi saya yakin, tidak sesering orang melankolis, karena karakter dasarnya seperti itu. Pengorbanan sekecil apapun.

Semua jenis pribadi memiliki karakter khasnya masing-masing yang saling melengkapi. Kalau semua orang sanguinis, mungkin tidak akan ada penulis di dunia ini. Kalau semua orang koleris, maka tidak akan ada orang yang menjadi bawahan di dunia ini. Kalau semua orang plegmatis, maka dunia ini akan terlalu 'tenang' dan itu justru membahayakan. Dan kalau semua orang melankolis, maka dunia ini hanya akan dipenuhi orang yang waktu berpikirnya lama dan perfeksionis--sangat bahaya juga.

Menjadi pribadi melankolis menyenangkan bagi saya. Mungkin karena itulah, saya lebih senang menulis daripada bicara, saya senang menggambar, mendesain, selalu ingin tahu setiap hal dengan detail (KEPO :D), dan cenderung mudah menerima semua keadaan yang dihadapkan pada saya. Namun, saya juga kadang lelah dengan sifat perfeksionis, terlalu banyak berpikir, sering menyalahkan diri sendiri, bahkan merasa bersalah ketika sedang menghibur diri. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, saya juga kadang lelah harus melakukan semua yang dibebankan kepada saya, karena saya jarang berani menolak amanah yang diberikan, karena sifat dasar melankolis yang tidak enakan. Namun terkadang saya meyakinkan pada diri saya, bahwa setiap apa yang saya lakukan harus saya niatkan sebagai tabungan amal untuk bekal akhirat kelak, sehingga saat lelah mendera, saya dapat terus menghadapinya dengan senyum dan tak pernah menyesal dilahirkan sebagai seorang melankolis.

Saya tak bohong, saya sangat BANGGA menjadi seorang melankolis sempurna. Saya dapat menjadikan hobi menulis, menggambar, dan mendesain yang merupakan bakat kebanyakan orang melankolis sebagai ladang amal, baik untuk dunia maupun akhirat. Dan saya pun tak memungkiri ingin berkembang, merambah ke ranah sanguinis, koleris, dan plegmatis. Sampai saat ini, saya masih belajar berkomunikasi dengan baik, baik dengan perseorangan maupun massal. Karena tuntutan dakwah telah membuat saya termotivasi untuk itu. Mungkin konsentrasi saya tetap pada tulisan dan pesan-pesan non verbal, tetapi secara oral pun saya harus persiapkan.

Dan kalau saya bukan orang melankolis, mungkin saya tidak menulis postingan ini :)