Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 November 2013

Iseng-iseng Berhadiah (Part 1)

Dulu, saya menulis dengan cara mencari celah di antara kesibukan kuliah dan berorganisasi. Saat ini, saya menulis dengan cara mencari celah di antara kesibukan bekerja di PKPU dan menjalankan bisnis kreasi flanel Istana Atha Creative (tetep promo ke mana-mana, hehe).

Saat itu menjelang lebaran. PKPU sedang sibuk-sibuknya mengadakan program dan penghimpunan. Bisnis flanel saya juga alhamdulillah sedang ramai, saat itu lagi happening banget toples hias flanel buat lebaran, kebanyakan dikirim ke luar Jawa lagi, jadi ngurusin ngirim-ngirimnya juga lumayan menyita waktu & tenaga. Lalu saya melihat pengumuman lomba menulis sinopsis film pendek di facebook. Lomba itu diadakan oleh Oz Radio Jakarta, dan belakangan baru tahu kalau Oz Radio juga kerjasama dengan SAE Institute dan OPPO Smartphone. Di pengumuman itu disebutkan, kalau sinopsis kita masuk 10 besar, maka sinopsis itu harus difilmkan. Saya langsung tertarik dan menyimpan info tersebut di lepi saya. Kebetulan saya langsung teringat dengan stok cerpen yang saya punya, cerpen itu cocok untuk diikutkan lomba itu. Namun karena kesibukan kerja dan bisnis, akhirnya saya baru mengirim cerpen yang saya jadikan sinopsis tepat saat deadline pengiriman. Fiuh, hampir saya nggak jadi ikutan, hehe.

Selang beberapa waktu kemudian, saya lupa tepatnya, kayaknya sih nggak sampai sebulan, saya di-sms panitia kalau sinopsis saya itu masuk 10 besar. Masya Allah, antara percaya nggak percaya, saya cuma bisa berucap alhamdulillaah berkali-kali saat itu. Lalu beberapa hari kemudian saya mendapat email formulir data finalis yang harus diisi. Dan ternyata harus tim, maksimal lima orang. Saya yang tadinya ikut lomba sendirian, akhirnya mencari teman untuk saya jadikan tim. Langsung saja saya cari teman-teman yang bisa pegang kamera alias nyuting, yang bisa bantu-bantuin, dan jelas yang bisa akting. Melalui audisi panjang dan ketat (ciaelah, nggak ding, hehe), akhirnya saya mengajak Kang Aria yang notabene temen kerja di PKPU, Diah Adni, Dany Dwi, dan Galuh Chandra. Tiga orang terakhir adalah adik-adik kelas saya sewaktu kuliah, dan dulunya sama-sama aktif di Unit Kerohanian Islam (UKI) Kesmas Unsoed.

Tanggal 11 September pun akhirnya kami berlima diminta berangkat ke Jakarta untuk mengambil handphone OPPO yang akan digunakan untuk merekam film dan mendapat pengarahan teknik pembuatan film dari SAE Institute. Dengan memperhitungkan budget yang ada, akhirnya kami cuma berangkat berempat, saat itu saya memutuskan supaya Dany nggak ikut dulu. Saya yang (jujur banget) masih awam dengan Jakarta sempat ser-seran juga, nanti di sana gimana ya, gimana ya, gimana ya, haha. Tapi untung bos saya di PKPU orang asli Jakarta, jadi bisa bantu-bantu meredakan kebingungan saya dan teman-teman, hehe. Bahkan, karena lokasi pengambilan handphone dan pengarahan ada di FX Sudirman Senayan, Jaksel, kamipun akhirnya memilih menginap di rumah orang tua Pak Bos saya yang kebetulan di Jaksel juga, tinggal naik kopaja sama busway saja kalau mau ke FX. Alhamdulillaah, kalau Allah sudah memberi kemudahan, mau ke mana saja, mau ngapain saja, Dia pasti memberikannya :)

Jadilah saya, Kang Aria, dan Galuh berangkat bertiga dari Purwokerto menggunakan bus--karena keabisan kereta ekonomi. Kebetulan Diah orang Tangerang dan saat itu lagi mudik, jadi dia nyusul berangkat dari Tangerang langsung ke FX. Saat itu kami berangkat malem abis maghrib, lalu sampai Terminal Lebak Bulus jam 4 pagi. Setelah selesai sholat shubuh, kita langsung capcus naik Kopaja P26, turun di perempatan Buncit (itu juga naik-naik kendarannya hasil boleh nanya ke Pak Bos, hihihi). Dari perempatan Buncit kita lanjut naik Kopaja 57, turun di mushola deket PLN Duren Tiga, Jaksel. Dan saat naik kopaja-kopaja itulah saya baru tahu betapa kejamnya hidup di ibukota (hehe, lebay). Kenek & sopirnya menyeramkan, kesannya nggak menghargai penumpang banget. Padahal kalau nggak ada yang naik juga mereka nggak dapat duit kan (emosi ceritanya, wkwk). Tapi alhamdulillaah, Allah masih memberi kita kemudahan untuk nggak nyasar dan langsung nemuin rumah orangtuanya Pak Bos. Sesampainya di sana kita langsung duduk & ngelurusin kaki. Ibunya Pak Bos langsung membuatkan teh manis hangat. Hmm, baiiik banget pokoknya, hehe.

Singkat cerita, jam 1 siang akhirnya kita berhasil duduk manis di dalam salah satu ruang kuliah SAE Institute, yang emang kampusnya satu building dengan mall FX Sudirman. Dari Duren Tiga ke sana kita naik Kopaja 57, turun di Blok M, lalu naik busway turun di halte Gelora Bung Karno. Saat itu kita benar-benar happy karena kita benar-benar dipinjami hape OPPO seri yang paling canggih saat itu (sebelum OPPO N1 keluar) yaitu OPPO Find 5. Hape itu ceritanya dipinjamkan untuk digunakan sebagai alat merekam adegan dalam film. Selain diserahi hape, kita juga mendapat pengarahan cara menggunakan hapenya dan pengarahan teknik pembuatan film dari dosen-dosen SAE. Saat itulah kita bener-bener yang hah? heh? hoh? mendengar penjelasan dari dosen-dosen SAE itu, terutama saat dosen kedua menjelaskan tentang teknik pengambilan gambar, mulai dari Long Shoot, Close Up, Extreme Close Up, Till Up, Till Down, Roll depan, Roll belakang, eh dua yang terakhir itu ngawur, wkwk. Kita berempat yang saat itu masih bener-bener 'iye-iye aja' merasa sangat asing dengan itu semua. Dan mulai minder saat ada beberapa teman finalis dari tim lain yang menyahut sang dosen dengan tangkasnya. Wow, mereka udah pada akrab sama teknik gitu-gituan, sementara kita? Saat itu saya hampir pengen merosot dari kursi, hehehe.

Keluar dari ruangan, perasaan berkecamuk antara lega dan ragu. Tapi kita tetap ada rasa optimis sih, soalnya waktu itu dikasih tahu panitia kalau seandainya kita nggak jadi Juara 1, 2, atau 3, kita tetap akan mendapat hadiah hape OPPO meskipun serinya lebih rendah. Jadi lumayan nggak khawatir kalau seandainya kalah, jauh-jauh dari Purwokerto kita tetap bisa bawa pulang hadiah dari Jakarta. Itu pikiran saya yang terlintas saat itu, hehehe.

Malamnya kami langsung capcus pulang ke Purwokerto. Kejadian unik, aneh, memalukan namun lucu kembali terjadi saat perjalanan pulang. Karena kita keluar dari FX tepat saat jam pulang kerja, akhirnya busway pun penuh terus. Dalam kondisi crowded seperti itu, kita sempat salah naik kopaja eksekutif (hadeh, ehehe), soalnya kopaja eksekutifnya saat itu berhenti di halte busway juga, jadi kita kira itu busway longgar, wkwk. Dengan muter-muter dulu, akhirnya kita tetap bisa sampai juga di terminal Lebak Bulus, tapi memang sudah kemaleman, waktu itu kita sampai jam setengah 9 malam. Bus-bus sudah pada berangkat & terminal sudah sepi. Dan akhirnya kita kena calo bus deh =_=. Masa kita disuruh bayar tiket Jakarta-Purwokerto 195ribu??? Subhanallah, emangnya kereta bisnis??? Saya pun nawar 75ribu, eh nggak boleh. Setelah negosiasi (saat itu saya sok berani, padahal dalam hati takut, takut diancem =_=) akhirnya dibolehin 100ribu. Kami pun masuk bus dengan perasaan setengah lega. Yah, nggak papalah bayar lebih banyak yang penting sampai rumah, pikir kita saat itu.

Tapi memang dari awalnya sudah nggak jelas, busnya pun ternyata rutenya muter-muter dulu. Berhenti-berhenti terus pula di terminal lain. Di Kampung Rambutan bahkan ngetem lama lagi. Sampai kita sempet dipalak preman ABG, haduduu. Dengan gaya sok berani (lagi), Kang Aria dan Galuh berhasil mengusir mereka hanya dengan 2ribu perak, hehehe. Dan bukan hanya itu, sesampainya di terminal Kota Tegal kita diminta turun. Tiket kita dicek, dan ternyata di tiket kita cuma ditulis kalau kita naik sampai Tegal. Subhanallah, saking kurang pengalamannya kita, kita nggak ngecek tiket kita ditulis untuk sampai di tujuan mana. Meskipun kita sempat bersitegang dengan penanggung jawab busnya, akhirnya kita tetap mengalah dan memutuskan mencari bus lain untuk melanjutkan perjalanan ke Purwokerto. Keluar uang lagi deh, hadeeh. Dan dengan perjalanan sepanjang itu, akhirnya kita baru sampai di Purwokerto jam 10 pagi. Bayangkan, 13 jam perjalanan di dalam bus hanya untuk menempuh dari Jakarta ke Purwokerto =_=.

But, still alhamdulillaah bisa kembali dengan selamat di kota tercinta. Dan masih bisa menceritakan pengalaman ini ke teman-teman :D

To be continued :)

Jumat, 28 Desember 2012

A Long Visit a.k.a My Mom--Ada yang Tidak Beres dengan Sang Ibu


Poster Film A Long Visit (My Mom)

Ini adalah tulisan lama saya, tertanggal 6 Januari 2011 di arsip saya. Dulu saya posting di note FB, namun kali ini saya ingin mempostingnya lagi di blog ini. Check it out!

Banyak teman yang bilang film ini BAGUS, mengharu biru, dan pokoknya menyentuh hati. Saking meyakinkannya mereka bilang begitu, saya jadi semakin termotivasi untuk menontonnya. Beberapa hari setelah mendapat film-nya, saya langsung menontonnya. Mungkin karena ekspektasi yang terlalu berlebihan, akhirnya membuat saya jenuh menonton film ini. Pada awalnya saya menikmati alur cerita yang natural dan sangat “nyata” di kehidupan kita itu, tapi baru setengah dari durasi film, saya angkat tangan dan memutuskan untuk mematikan laptop saya. Saya pikir akan ada semacam “kejutan” atau apalah di tengah cerita, tapi nyatanya alur film tetap berjalan seperti itu. Mungkin memang A Long Visit dimaksudkan untuk dijadikan film yang datar tapi mengena, seperti The Way Home, Hearty Paws, Hachiko, atau Wedding Dress. Tapi, menurut saya—ini menurut saya J--keempat film tersebut lebih punya sedikit amplitudo dibanding A Long Visit.

Akhirnya saya merampungkan film itu beberapa hari kemudian. Saya penasaran, tapi bukan layaknya penasaran terhadap kejadian di dalam film itu, melainkan penasaran kapan si “kejutan” atau setidaknya sedikit “amplitudo” itu akan muncul. Dan memang, amplitudo itu muncul, tapi agak-agak di akhir. Ternyata, si anak perempuan kesayangan sang ibu sakit kanker dan meninggal di penghujung film—ending tipe film golongan atau digolongkan “datar tapi mengena”.

Kalau dari segi akting, film ini memang bagus. Sang ibu dan anak perempuannya bisa menerjemahkan skenario film yang dibuat sealami mungkin (seperti kehidupan sehari-hari) menjadi akting yang juga natural. Bagaimana ibu yang tidak berpendidikan berjuang membesarkan anaknya dengan penderitaan dan kekonyolan-kekonyolan yang banyak terjadi di sekitar kita, sang anak yang malu tapi sayang dengan ibunya yang norak tapi sangat mencintainya, dan sederet peristiwa-peristiwa lazim lainnya yang terjadi di kehidupan nyata. Film ini menjadi kubu seberang dari film-film laris yang dikatakan realistis tapi tidak realistis-realistis amat juga. Misalnya, ketika seorang gadis harus berjuang menghidupi diri dan keluarganya (atau harus berjuang untuk membayar utang yang ditinggalkan orang tuanya), ia lalu bertemu dengan laki-laki tipe pangeran tampan yang bertemu dengannya karena suatu KEBETULAN. Meski dari kalangan tidak punya, kebetulan gadisnya cantik, jadi endingnya pun... ya begitulah. Kalau dipikir-pikir, apa iya kita sering menemui fenomena semacam ini? Kalau kebetulan gadisnya tidak cantik (secara fisik) bagaimana? Atau yang laki-lakinya tidak tampan (secara fisik juga) bagaimana? Sudah begitu, kadang-kadang si gadis jadi rebutan juga. Laki-laki yang merebutkan masuk tipe pangeran tampan pula! Kalaupun ada kenyataan semacam ini, pasti sedikit. Padahal cerita tipe cinderella seperti ini buaanyak sekali dipakai untuk inti cerita dan laris manis di pasaran. Tapi tidak bisa dipungkiri, kisah-kisah seperti ini memang banyak disukai oleh masyarakat, terutama masyarakat yang mendambakan kehidupan ideal, sejenak mereka lari dari kenyataan dan bahagia dengan menonton serial yang beralur ideal itu.

Dibanding dengan kisah semacam itu, mungkin sesekali kita memang perlu menonton film-film yang lebih realistis dan natural, kita bisa bercermin terhadap diri kita sendiri, dan kadang menertawakan kekonyolan dalam film yang sering kita lakukan di dunia nyata. Seperti film A Long Visit ini, yang malah mungkin terlalu realistis.

Hal lain yang mengecewakan saya, selain “amplitudo” yang kurang greget, adalah pesan moral film ini yang kurang sempurna. Mungkin dari film ini, sang penulis cerita ingin menyampaikan pesan dengan tokoh utama ibu, yaitu tentang “sayangilah ibu”, “jangan membenci ibu”, “pengertianlah terhadap ibu”, dan sebagainya. Tetapi setelah menonton film ini, bukannya saya menangis karena terkenang sosok ibu yang begitu mulia, saya malah sungguh tidak suka dengan sosok ibu dalam film ini. BENAR-BENAR TIDAK SUKA.

Mari kita cermati dari tiap segmen film ini.

Pertama, film ini seolah-olah menunjukkan betapa besar kasih ibu kepada anaknya. Tapi anak yang mana? Di film ini, si ibu sangat sangat sangat menyayangi anak perempuannya, tapi anak laki-lakinya ia cueki mentah-mentah. Kalau pesan yang akan dibawa adalah besarnya kasih sayang ibu kepada anaknya, harusnya tokoh ibu dalam film ini juga menyayangi anak laki-lakinya (adiknya si anak perempuan kesayangan). Atau setidaknya bersikap sewajarnya, tidak cuek seperti itu. Kesan ibu mulia yang penuh kasih sayang terhadap anaknya (semua anaknya—red) menjadi gagal dibawakan dalam film ini, karena ia hanya mencurahkan kasih sayangnya pada anak perempuannya.

Kedua, film ini seolah-olah ingin menunjukkan betapa besar dan berat perjuangan seorang ibu untuk membesarkan anaknya. Tapi, film ini menunjukkan karakter sang ibu yang RELA melakukan APA SAJA demi anaknya, termasuk mendatangi peramal dan menawar harga makanan di pasar dengan begitu sadis. Tentu saja saya sebagai seorang muslim sangat tidak sepakat dengan hal ini. Kita boleh bekerja keras untuk suatu hal yang baik (termasuk membesarkan anak), tapi tidak sampai berbuat syirik dan mendzalimi orang lain.

Ketiga, film ini seolah-olah ingin menunjukkan rasa cinta yang total dari sang ibu untuk anaknya (anak perempuannya—red). Tapi, rasa cinta ini sungguh diekspresikan terlalu berlebihan. Sang ibu sangat tidak rela ketika anaknya mati, sampai menangis meraung-raung, bahkan berjanji untuk mati duluan. Karena ternyata tidak mati duluan, ia berjanji untuk segera menyusul anaknya dan bertemu dengannya di kehidupan berikutnya. Kehidupannya pun dihabiskan dengan hanya melamun dan ia menjalani semua aktivitas seolah-olah tanpa nyawa—sampai sebegitunya. Kembali lagi, dikemanakan anak laki-lakinya? Bukankah ia masih punya seorang anak laki-laki? Lalu ia juga punya cucu dan menantu yang baik. Mereka semua dikemanakan? Lagi, sebagai seorang muslim saya sangat tidak sepakat dengan hal ini. Sang ibu telah menempatkan rasa cinta yang pertama untuk anak perempuannya. Padahal, tingkatan cinta yang pertama adalah untuk Allah SWT. Dan yang keduapun untuk Rasulullah SAW. Tidak boleh kita cinta berlebihan pada harta, kekuasaan, kecantikan, ketampanan, bahkan pada anak. Kita juga tidak boleh menangisi orang yang sudah meninggal dengan berlebihan, sampai meraung-raung, mengutuk, dan bahkan mempengaruhi perjalanan kehidupan kita selanjutnya. Kita harus merelakan setiap nyawa yang pergi meninggalkan kita, agar ia pun bisa pergi dengan tenang.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan yang saya cermati itu, kembali saya menyampaikan bahwa mungkin film ini memang ditujukan untuk menunjukkan realita yang ada dalam hidup kita. Mungkin sang penulis cerita pernah menjumpai sosok ibu dengan karakter semacam itu, atau bahkan mengalaminya sendiri. Tidak bisa dipungkiri, di dunia nyata ini ada sosok ibu dengan karakter seperti itu, dan penulis cerita ingin menunjukkan bahwa “ini lho, ada ibu yang sayang sama anaknya sampai sebegitunya...”. Kalau memang tujuan film ini hanya sekedar mencuplik realita dalam kehidupan ini, film ini cukup bagus, karena kedalaman peran ibu dan anak yang natural. Tapi kalau film ini ditujukan untuk membawakan pesan moral, saya rasa masih ada yang kurang pas.

That’s all. Itulah hasil cermatan saya tentang film A Long Visit a.k.a My Mom. Mungkin terkesan subjektif, dan mungkin saja hasil cermatan orang lain akan berbeda. But it doesn’t matter, semua orang punya pendapat masing-masing :)

The Hunger Games—Parodi Dunia Saat Ini



Poster Film The Hunger Games



Cover Novel The Hunger Games


Kakak saya hobi menyewa film dari rentalan. Terkadang film yang beliau sewa bagus, tapi tak sedikit juga yang salah pilih (piss, sista :D). Yang terakhir, beliau menyewa dua film, The Hunger Games dan Mirror Mirror. Waktu saya melihat The Hunger Games yang beliau sewa, saya langsung berkomentar, “ini baru benar!” Tumben, kakak saya berhasil menyewa film box office. Kakak saya selalu memasuki rentalan film dengan buta—ya, buta film. Tidak seperti saya yang sering repot-repot cari referensi by googling sebelum memilih film, kakak saya langsung saja pergi ke rental dan memilih di sana—hanya berpedoman pada sinopsis yang kadang tidak sesuai dengan ekspektasi.  Mungkin karena beliau memang sibuk bekerja, sehingga tak sempat cari-cari referensi seperti saya. Saat mendengar komentar saya itu, kurang lebih beliau hanya bilang, “aku melihat poster film itu dipajang di kaca depan rental.” Aku bersyukur rentalan memajang poster film itu di sana :D

The Hunger Games adalah film jawara box office tahun lalu. Saya dan kakak saya sama-sama penggemar film, tetapi juga sama-sama tak pernah pergi ke bioskop. Ketika ada film bagus rilis, kami tak pusing-pusing meluangkan waktu ke bioskop. Dengan sabar, kami menunggu vcd atau dvd film itu disewakan di rentalan. Kami berdua punya prinsip, menikmati film bukanlah harus buru-buru saat film masih fresh supaya kita bisa ikut nimbrung ketika orang-orang ribut membahasnya. Kami mengedepankan kenyamanan dalam menonton. Menonton di rumah adalah cara paling nyaman buat kita. Kita bisa menonton sambil makan rujak (bukan hanya makan popcorn), tiduran, tengkurap, dan yang paling asyik, kita bisa mem-pause film ketika kita harus melakukan sesuatu tetapi tak ingin ketinggalan setiap adegannya—misalnya ke kamar mandi, mengangkat jemuran, atau disuruh Ibu membeli garam di warung. Meski kami menonton dalam kondisi film ‘sudah basi’ dalam bahasan orang-orang, tetapi bagi kami intinya tetap sama: kita dan mereka sama-sama sudah nonton! ^_^

OK, saya tidak akan membahas terlalu banyak mengenai kebiasaan kami menonton film di rumah. Karena, inti dari tulisan ini adalah mengenai komentar saya terhadap isi cerita film The Hunger Games. Sebelum memasuki inti, saya ingin mengingatkan kepada siapapun yang membaca artikel ini, bahwa ini hanyalah pendapat saya, dan murni saya tuliskan dari apa yang ada di benak dan pikiran saya setelah saya menonton film ini.

Ketika film ini baru rilis di negerinya, saya membaca sinopsisnya sekilas. Dari posternya pun sudah kelihatan, ini film action fantasi. Sebenarnya saya tidak begitu tertarik dengan film action, apalagi panah-panahan, seperti gambar posternya. Tapi karena film ini menjadi jawara pada saat itu—dengan arti banyak orang yang suka, saya pun bersemangat ketika kakak membawa pulang vcd sewaannya ke rumah. Saat saya mulai menonton, rasa tertarik pun langsung muncul. Ternyata ini bukan sekedar film action fantasi, tapi juga thriller. Thriller adalah salah satu genre film favorit saya. Tak pelak lagi, langsung saya habiskan film itu hari itu juga.

Bagi yang sudah menonton, pasti sudah hafal dengan jalan ceritanya. Bisa ditebak dari judulnya, The Hunger Games adalah film yang bercerita tentang sebuah permainan. Tadinya, saya pikir film ini akan menonjolkan keunggulan utama dari kemampuan sang lakon dalam menjalani permainan hingga sukses sampai akhir. Tetapi lebih dari itu, film yang diangkat dari novel karya Suzanne Collins ini menunjukkan tentang potret dunia yang saat ini tengah terjadi, lewat berbagai macam sindiran a la TV show dan orang-orang dengan dandanan mencolok a la opera yang ditunjukkan dalam film ini. Kalau boleh saya bilang, film ini adalah sebuah parodi dari kenyataan hidup yang terjadi sekarang.

Film The Hunger Games punya setting negara tersendiri. Tadinya saya menduga ini dikarenakan film ini merupakan film fantasi, tetapi saya tidak melihat adanya penjelasan apapun di awal—tak ada narator yang terlebih dahulu bercerita, “dahulu kala, di sebuah negeri ratusan tahun yang lalu, bla bla bla...” atau “di sebuah negeri tak terjamah, bla bla bla...”—film ini hanya memunculkan penjelasan singkat secara tertulis, yang intinya menjelaskan bahwa The Hunger Games merupakan nama sebuah permainan yang merupakan tradisi sebuah negara bagian yang dalam film itu hanya disebut sebagai ‘The Capitol’. Setelah saya menilik wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/The_Hunger_Games), ternyata dalam novelnya dijelaskan bahwa negara latar cerita The Hunger Games berada pada zaman apokalips bernama Panem—ya pantes, fantasi banget.

Permainan ini diciptakan dalam sebuah perjanjian atas pengkhianatan karena dahulu terjadi pemberontakan dari 12 distrik yang berada di bawah kekuasaan The Capitol. Setiap tahun, keduabelas distrik harus mengirimkan 1 orang remaja laki-laki dan 1 orang remaja perempuan untuk mengikuti The Hunger Games sebagai bentuk ‘penebusan dosa’ atas pemberontakan yang pernah mereka lakukan—meskipun mungkin para pemberontak yang asli sudah meninggal jauhari sebelumnya, dan para remaja yang sekarang terlibat dalam permainan itu pun tak pernah menyaksikan pemberontakan yang selalu disebut-sebut oleh para bangsawan dari The Capitol itu. Yang semakin membuat permainan ini terlihat mengada-ada, hanya ada satu pemenang dari permainan ini dengan semua lawan (23 orang) harus mati—entah karena terbunuh atau karena terkena jebakan, infeksi, keracunan, dehidrasi, dsb. Saat saya mencari arti kata ‘hunger’ di kamus, artinya pun menunjukkan kesan permainan itu, yaitu kelaparan atau keinginan yang amat sangat. Ya, ketika seorang pemain The Hunger Games ingin menang, ia akan menjadi seseorang yang ‘kelaparan’ dan tega menghabisi para remaja yang seharusnya bisa ia jadikan teman.

The Hunger Games mengharuskan para pemain tinggal di sebuah wilayah hutan—yang ternyata di-setting sedemikian rupa oleh Gamemaker, seseorang yang dipercayai presiden The Capitol untuk mengatur dan mengontrol jalannya permainan. Awalnya saya kira 24 remaja itu dilepas di hutan belantara real, tetapi ternyata mereka dilepas di sebuah hutan buatan Gamemaker. Bahkan dunia penduduk negara itu pun ‘buatan’, dengan pimpinan teratas seorang presiden. Mereka harus saling membunuh, berebut perbekalan, menghindari jebakan-jebakan yang di-setting Gamemaker, atau setidaknya bertahan hidup sendiri. Sampai akhirnya yang tersisa hanya satu orang pemain, dan ialah yang akan menjadi pemenangnya. Setidaknya ‘pemenang’ menurut apa yang di-setting Gamemaker.

Jelas sudah, negara dalam film ini tak mungkin ada di dunia ini, karena kita punya HAM. Tapi benarkah itu? Benarkah negara seperti negara pembuat The Hunger Games ini tidak ada di dunia ini? Jika kita merenung lebih dalam, maka akan jelas terlihat bahwa permainan seperti The Hunger Games hanyalah sebuah parodi kecil dari apa yang sedang terjadi di dunia ini. Sebuah skenario saling menghancurkan dengan janji kemenangan tengah dijalankan oleh seorang ‘Gamemaker’ dan kita semua di dunia ini sebagai pemainnya! Inilah inti yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini.

Saya menikmati alur cerita film ini, meski dengan penuh rasa ngeri, sebagai sebuah film fantasi biasa—yang ingin menyatakan bahwa ‘di dunia manapun, kebaikan akan selalu menang’—seperti ketika saya menonton Harry Potter, Narnia, Lord of The Rings, dsb. Namun anggapan itu perlahan mulai berubah ketika saya melihat bahwa permainan di The Hunger Games ternyata disiarkan sebagai sebuah TV show di negara tersebut, dan ditonton oleh semua penduduk dari 12 distriknya. Dalam film ini diceritakan bagaimana Gamemaker meminta pertimbangan-pertimbangan presiden ketika The Hunger Games sedang berlangsung, bagaimana sebuah drama percintaan digembar-gemborkan oleh presenter yang layaknya seorang komentator sepak bola ketika menyiarkan tentang jalannya The Hunger Games, bagaimana Gamemaker selalu berpikir agar The Hunger Games terlihat sebagai sebuah tontonan yang menarik bagi masyarakat (tanpa peduli permainan itu akan mengambil 23 nyawa remaja), bagaimana seorang penasehat tiap distrik (dalam hal ini distrik 12 yang merupakan distriknya sang tokoh utama) menasehati bahwa si tokoh utama, Katniss Everdeen, harus menjawab bahwa ia memang benar-benar mencintai teman satu distriknya, Peeta, agar Gamemaker dan penonton senang, bagaimana Katniss dan Peeta terlihat saling jatuh cinta saat menjalani permainan namun saat pulang ke distriknya sebagai pemenang mereka menyatakan harus melupakan semua apa yang sudah terjadi di antara mereka, dan bagaimana sewenang-wenangnya Gamemaker dalam membuat aturan permainan dengan tujuan mengocok emosi pemirsa. Ketika Katniss berhasil menjauh dari musuh-musuhnya dalam permainan, hingga terlalu jauh dan tidak terjangkau, Gamemaker menyuruh para stafnya untuk menciptakan kebakaran hutan sehingga Katniss harus kabur dari tempat persembunyiannya dan mendekat ke area musuh-musuhnya. Ketika kisah cinta Katniss dan Peeta menjadi menarik di mata pemirsa, Gamemaker mengubah peraturan The Hunger Games, bahwa pemenangnya boleh dua orang, asal sama-sama dari satu distrik. Untuk menggiring Katnis dan Peeta bertanding dengan seorang lawan lagi yang bernama Cato, Gamemaker pun menyuruh stafnya membuat anjing ganas untuk mengejar mereka hingga mereka lari dan bertemu Cato. Namun ketika Katniss dan Peeta berhasil memenangkan permainan, Gamemaker mendadak mengumumkan bahwa peraturannya kembali ke awal, bahwa hanya boleh ada satu pemenang. Ketika Katniss dan Peeta memutuskan untuk sama-sama bunuh diri, Gamemaker menghentikannya, dan akhirnya mereka berdua tetap bersama-sama menjadi pemenang The Hunger Games. Adegan di bagian akhir, meski tidak ditunjukkan secara langsung, Gamemaker bunuh diri dengan memakan buah berry beracun, karena ia merasa gagal menjalankan permainan itu. Katniss tak mau membunuh Peeta, tidak seperti kehendaknya.

Terlepas dari ide cerita yang GILA karena menggampangkan penciptaan makhluk dan kejadian—kebakaran hutan, anjing ganas, dan segala yang ada di permainan itu diciptakan dengan teknologi komputer oleh Gamemaker dan para stafnya—sekali lagi, film ini sebenarnya merupakan parodi dari kehidupan saat ini, bahwa ada ‘Gamemaker’ menyetting berbagai huru-hara yang terjadi di dunia saat ini.

Sebutlah, USA dan para sekutunya, yang Yahudi, atau berpehamaman buruk itu. Apa sih yang sekarang tidak berada ‘di bawah kendalinya’? Bahkan sampai pada hal-hal yang tak disadari pun kini berada di bawah pengaruhnya. Dunia ini bagaikan ajang permainan bagi pihak-pihak tersebut. Dibikin kacau, diadu domba sana-sini, dibikin ribut. Dan kenapa kita mau dibikin ribut? Karena ada harapan kemenangan yang diiming-imingkan di sana, sehingga para boneka yang diadu memiliki ‘hunger’. Dan kenapa mereka membuat permainan ini? Tidak lain karena dengan membuat, maka merekalah yang otomatis menang. Semua diatur sedemikian rupa agar semua berada di bawah kehendaknya, dan bukan mereka yang menang dalam permainan yang menjadi pemenangnya, tetapi si pengatur permainan itulah pemenang sebenarnya. Meski melalui jalan yang BURUK.

Mereka menggunakan segala macam taktik, menyetting berbagai keadaan, dan menetapkan peraturan yang sewenang-wenang seperti Gamemaker dalam The Hunger Games untuk mengadu domba orang-orang, atau golongan-golongan, atau bahkan bangsa-bangsa sehingga mereka pada akhirnya porak-poranda dan sang Gamemaker-lah yang menang. Jika Gamemaker dalam The Hunger Games menciptakan permainan itu dengan alasan sebagai bentuk penebusan dosa atas pemberontakan orang-orang dari distrik, maka, sebagai contoh, Yahudi menciptakan peperangan dengan alasan membela haknya sebagai bangsa yang dulu mengalami tragedi Holocaust. Jika Gamemaker menciptakan kebakaran hutan untuk menggiring Katniss mendekat kepada musuhnya, maka Amerika mengebom gedung tertingginya untuk melancarkan tuduhan teroris kepada umat Islam sehingga memancing kerusuhan. Dan lebih luas, mereka melakukan permainan semacam The Hunger Games untuk seluruh dunia, sehingga mereka benar-benar berkuasa atasnya. Mereka tak pernah sadar, mereka bahkan tak punya kuasa untuk menurunkan air hujan dari langit.

Sebagai muslim, saya benci dengan hal ini, yang menganggap orang lain, golongan lain, bangsa lain, sebagai boneka. Saya percaya dengan satu kemenangan, yaitu kemenangan Islam. Allah menjanjikan kemenangan bagi Islam, itu mutlak. Kenapa saya sangat percaya? Karena Islam akan menang dengan cara apapun yang Allah kehendaki. Tak perlu kami repot-repot merancang permainan, mengadu domba, membikin huru-hara, itu hal yang PAYAH. Ketika dunia ini damai, dan umat agama lain tak menyerang kita secara frontal, Allah pun melarang kita menyerang mereka secara frontal. Kita cukup hidup apa adanya sebagai seorang muslim, berdakwah secara santun, tidak neko-neko, TIDAK MENEROR. Bagi mereka yang cerdas, mereka akan dengan sendirinya jatuh cinta dengan ajaran kita. Satu per satu akan meminta bergabung dengan kita, dan perlahan tapi pasti Islam-pun menang. Dan jika dunia ini ribut, mereka menyerang kita secara frontal, barulah kita diperbolehkan balas menyerang, namun itupun dengan berbagai kesantunan yang juga seharusnya menyadarkan di antara mereka yang cerdas. Islam akan menang, itu mutlak.

Ketika dunia ini sudah terlanjur ‘di bawah kendali’ mereka (hanya kiasan, karena kendali tertinggi tentu hanya pada Allah SWT), maka kita harus bertindak melawan aturan permainan mereka. Seperti Katniss, yang tidak mau membunuh Peeta, tapi malah memutuskan bunuh diri bersama-sama, karena bukan kemenangan di mata orang-orang yang ia cari, namun solidaritas—bukan bermaksud menyatakan bahwa bunuh diri dan cinta-cintaan sebelum nikah itu boleh, tetapi hanya mengambil hikmah atas keputusannya ‘membangkang dari peraturan’. Toh akhirnya Gamemaker malah bunuh diri. Jangan kita terus hanyut dalam aturan yang mereka buat dan akhirnya menjadi budak mereka, tetapi bagaimana kita melangkah keluar hingga dapat menjatuhkan mereka dan kemenangan pun ada di tangan kita, ISLAM. Jangan dahulu berpikir terlalu berat. Bahkan Syaikh Adnan A’li Ar-Rantisi, imam besar Masjid Gaza Palestina, ketika ditanya seorang pemuda di Masjid Fatimatuzzahra Purwokerto tentang bagaimana upaya yang dapat dilakukan pemuda Indonesia untuk membantu dalam konflik di Palestina, beliau hanya menjawab bahwa cukup shalat berjamaah secara rutin selama satu tahun penuh dan menghafal Al-Qur’an, beliau tidak menyuruh pemuda itu untuk berangkat berperang ke Palestina.

Salah satu yang juga mencirikan bahwa film ini adalah sebuah parodi, yaitu make up penduduk The Capitol yang berlebihan. Semua penghuni The Capitol berdandan a la festival. Singkat saja, poin ini mencirikan banyaknya manusia yang memakai ‘topeng’ untuk menutupi jati diri mereka. Mereka, orang-orang The Capitol itu, bahkan sangat menikmati setiap jalannya The Hunger Games.

The Hunger Games adalah parodi ringan dari apa yang terjadi di dunia, dan juga, parodi berat dari TV show yang sekarang sedang menjamur di dunia pertelevisian termasuk Indonesia. Dulu, saya sempat percaya bahwa reality show adalah benar-benar kejadian nyata yang direkam kamera, tetapi semakin ke sini, saya semakin sulit membedakan mana yang ‘reality’ show dan mana yang sinetron. Saya mulai curiga ketika reality show mulai lebay dalam menampakkan kesedihan orang-orang dalam acara tersebut, atau jalan ceritanya seperti sudah tertebak layaknya di sinetron. Semuanya ternyata hanya settingan.

Ketika rating reality show tersebut turun, maka salah satu cara jitu adalah meramu cerita yang dapat menarik pemirsa—yang paling sering adalah mengeksploitasi kesedihan dengan memaksa orang-orang dalam reality show tersebut menangis. Kalau belum menangis, maka sang host akan memancing, memancing, dan memancing terus sampai ia sesenggukan sendiri. Cara jitu kedua adalah, meramu kisah cinta lokasi—ini seperti yang terjadi di The Hunger Games, dan di sana ditunjukkan bahwa penonton menyukainya. Terkadang sang pembuat acara hanya membumbui apa yang sudah terjadi secara nyata, tetapi tak jarang juga, mereka tidak hanya sekedar membumbui, tetapi membuatnya dari awal. Manusia memang senang berkhayal, sehingga mereka tak tertarik jika apa yang ditayangkan di TV datar-datar saja seperti hidup mereka. Kalau boleh, saya menganjurkan reality show yang pura-pura real untuk mengaku secara baik-baik bahwa kisah dalam acara mereka HANYA FIKTIF BELAKA.

Well, semua bersimpul pada evaluasi fenomena yang terjadi saat ini. The Hunger Games hanya sebuah film, yang saya analisa menurut jalan pikiran saya—entah sejalan dengan pemikiran si penulis novel dan sutradara film-nya atau tidak. Tetapi yang jelas, apalah arti fasilitas blogging jika saya tak boleh menulis apa yang ada dalam pikiran saya ini? Saya pun tak pernah mengira, bahwa pemikiran saya jika dituliskan ternyata sebanyak ini.

Dan, setelah saya selesai menulis artikel ini, saya iseng menilik tribunnews (http://www.tribunnews.com/2012/03/22/kisah-the-hunger-games-terinspirasi-perang-irak) terlebih dulu sebelum memposting artikel ini ke blog. Saya mendapati bahwa ternyata Suzanne Collins memang benar-benar menulis novel ini karena terinspirasi dari fenomena reality show yang diikuti para pemuda untuk memperebutkan jutaan dollar, sementara saat itu juga ia melihat sebuah perang sedang terjadi di belahan dunia lain, yaitu Irak. Ia bahkan mengunggah sebuah video di youtube yang menegaskan bahwa ia tengah berusaha menggugah sikap kritis pemuda atas apa yang sedang terjadi saat ini.

Meski saya tidak bilang novel dan film ini 100% bagus, saya salut. Novel dan film ini benar-benar bisa menerjemahkan kritikan ke dalam sebuah film yang juga dapat dipahami oleh orang awam seperti saya. Dan satu hal lagi, karena ini novel dan film kritikan, maka ia hanya digunakan untuk menyadarkan kita yang belum sadar terhadap fenomena yang sedang dikritisi itu, bukan menjadi contoh bulat-bulat J