Tampilkan postingan dengan label unik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label unik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 November 2013

Iseng-iseng Berhadiah (Part 1)

Dulu, saya menulis dengan cara mencari celah di antara kesibukan kuliah dan berorganisasi. Saat ini, saya menulis dengan cara mencari celah di antara kesibukan bekerja di PKPU dan menjalankan bisnis kreasi flanel Istana Atha Creative (tetep promo ke mana-mana, hehe).

Saat itu menjelang lebaran. PKPU sedang sibuk-sibuknya mengadakan program dan penghimpunan. Bisnis flanel saya juga alhamdulillah sedang ramai, saat itu lagi happening banget toples hias flanel buat lebaran, kebanyakan dikirim ke luar Jawa lagi, jadi ngurusin ngirim-ngirimnya juga lumayan menyita waktu & tenaga. Lalu saya melihat pengumuman lomba menulis sinopsis film pendek di facebook. Lomba itu diadakan oleh Oz Radio Jakarta, dan belakangan baru tahu kalau Oz Radio juga kerjasama dengan SAE Institute dan OPPO Smartphone. Di pengumuman itu disebutkan, kalau sinopsis kita masuk 10 besar, maka sinopsis itu harus difilmkan. Saya langsung tertarik dan menyimpan info tersebut di lepi saya. Kebetulan saya langsung teringat dengan stok cerpen yang saya punya, cerpen itu cocok untuk diikutkan lomba itu. Namun karena kesibukan kerja dan bisnis, akhirnya saya baru mengirim cerpen yang saya jadikan sinopsis tepat saat deadline pengiriman. Fiuh, hampir saya nggak jadi ikutan, hehe.

Selang beberapa waktu kemudian, saya lupa tepatnya, kayaknya sih nggak sampai sebulan, saya di-sms panitia kalau sinopsis saya itu masuk 10 besar. Masya Allah, antara percaya nggak percaya, saya cuma bisa berucap alhamdulillaah berkali-kali saat itu. Lalu beberapa hari kemudian saya mendapat email formulir data finalis yang harus diisi. Dan ternyata harus tim, maksimal lima orang. Saya yang tadinya ikut lomba sendirian, akhirnya mencari teman untuk saya jadikan tim. Langsung saja saya cari teman-teman yang bisa pegang kamera alias nyuting, yang bisa bantu-bantuin, dan jelas yang bisa akting. Melalui audisi panjang dan ketat (ciaelah, nggak ding, hehe), akhirnya saya mengajak Kang Aria yang notabene temen kerja di PKPU, Diah Adni, Dany Dwi, dan Galuh Chandra. Tiga orang terakhir adalah adik-adik kelas saya sewaktu kuliah, dan dulunya sama-sama aktif di Unit Kerohanian Islam (UKI) Kesmas Unsoed.

Tanggal 11 September pun akhirnya kami berlima diminta berangkat ke Jakarta untuk mengambil handphone OPPO yang akan digunakan untuk merekam film dan mendapat pengarahan teknik pembuatan film dari SAE Institute. Dengan memperhitungkan budget yang ada, akhirnya kami cuma berangkat berempat, saat itu saya memutuskan supaya Dany nggak ikut dulu. Saya yang (jujur banget) masih awam dengan Jakarta sempat ser-seran juga, nanti di sana gimana ya, gimana ya, gimana ya, haha. Tapi untung bos saya di PKPU orang asli Jakarta, jadi bisa bantu-bantu meredakan kebingungan saya dan teman-teman, hehe. Bahkan, karena lokasi pengambilan handphone dan pengarahan ada di FX Sudirman Senayan, Jaksel, kamipun akhirnya memilih menginap di rumah orang tua Pak Bos saya yang kebetulan di Jaksel juga, tinggal naik kopaja sama busway saja kalau mau ke FX. Alhamdulillaah, kalau Allah sudah memberi kemudahan, mau ke mana saja, mau ngapain saja, Dia pasti memberikannya :)

Jadilah saya, Kang Aria, dan Galuh berangkat bertiga dari Purwokerto menggunakan bus--karena keabisan kereta ekonomi. Kebetulan Diah orang Tangerang dan saat itu lagi mudik, jadi dia nyusul berangkat dari Tangerang langsung ke FX. Saat itu kami berangkat malem abis maghrib, lalu sampai Terminal Lebak Bulus jam 4 pagi. Setelah selesai sholat shubuh, kita langsung capcus naik Kopaja P26, turun di perempatan Buncit (itu juga naik-naik kendarannya hasil boleh nanya ke Pak Bos, hihihi). Dari perempatan Buncit kita lanjut naik Kopaja 57, turun di mushola deket PLN Duren Tiga, Jaksel. Dan saat naik kopaja-kopaja itulah saya baru tahu betapa kejamnya hidup di ibukota (hehe, lebay). Kenek & sopirnya menyeramkan, kesannya nggak menghargai penumpang banget. Padahal kalau nggak ada yang naik juga mereka nggak dapat duit kan (emosi ceritanya, wkwk). Tapi alhamdulillaah, Allah masih memberi kita kemudahan untuk nggak nyasar dan langsung nemuin rumah orangtuanya Pak Bos. Sesampainya di sana kita langsung duduk & ngelurusin kaki. Ibunya Pak Bos langsung membuatkan teh manis hangat. Hmm, baiiik banget pokoknya, hehe.

Singkat cerita, jam 1 siang akhirnya kita berhasil duduk manis di dalam salah satu ruang kuliah SAE Institute, yang emang kampusnya satu building dengan mall FX Sudirman. Dari Duren Tiga ke sana kita naik Kopaja 57, turun di Blok M, lalu naik busway turun di halte Gelora Bung Karno. Saat itu kita benar-benar happy karena kita benar-benar dipinjami hape OPPO seri yang paling canggih saat itu (sebelum OPPO N1 keluar) yaitu OPPO Find 5. Hape itu ceritanya dipinjamkan untuk digunakan sebagai alat merekam adegan dalam film. Selain diserahi hape, kita juga mendapat pengarahan cara menggunakan hapenya dan pengarahan teknik pembuatan film dari dosen-dosen SAE. Saat itulah kita bener-bener yang hah? heh? hoh? mendengar penjelasan dari dosen-dosen SAE itu, terutama saat dosen kedua menjelaskan tentang teknik pengambilan gambar, mulai dari Long Shoot, Close Up, Extreme Close Up, Till Up, Till Down, Roll depan, Roll belakang, eh dua yang terakhir itu ngawur, wkwk. Kita berempat yang saat itu masih bener-bener 'iye-iye aja' merasa sangat asing dengan itu semua. Dan mulai minder saat ada beberapa teman finalis dari tim lain yang menyahut sang dosen dengan tangkasnya. Wow, mereka udah pada akrab sama teknik gitu-gituan, sementara kita? Saat itu saya hampir pengen merosot dari kursi, hehehe.

Keluar dari ruangan, perasaan berkecamuk antara lega dan ragu. Tapi kita tetap ada rasa optimis sih, soalnya waktu itu dikasih tahu panitia kalau seandainya kita nggak jadi Juara 1, 2, atau 3, kita tetap akan mendapat hadiah hape OPPO meskipun serinya lebih rendah. Jadi lumayan nggak khawatir kalau seandainya kalah, jauh-jauh dari Purwokerto kita tetap bisa bawa pulang hadiah dari Jakarta. Itu pikiran saya yang terlintas saat itu, hehehe.

Malamnya kami langsung capcus pulang ke Purwokerto. Kejadian unik, aneh, memalukan namun lucu kembali terjadi saat perjalanan pulang. Karena kita keluar dari FX tepat saat jam pulang kerja, akhirnya busway pun penuh terus. Dalam kondisi crowded seperti itu, kita sempat salah naik kopaja eksekutif (hadeh, ehehe), soalnya kopaja eksekutifnya saat itu berhenti di halte busway juga, jadi kita kira itu busway longgar, wkwk. Dengan muter-muter dulu, akhirnya kita tetap bisa sampai juga di terminal Lebak Bulus, tapi memang sudah kemaleman, waktu itu kita sampai jam setengah 9 malam. Bus-bus sudah pada berangkat & terminal sudah sepi. Dan akhirnya kita kena calo bus deh =_=. Masa kita disuruh bayar tiket Jakarta-Purwokerto 195ribu??? Subhanallah, emangnya kereta bisnis??? Saya pun nawar 75ribu, eh nggak boleh. Setelah negosiasi (saat itu saya sok berani, padahal dalam hati takut, takut diancem =_=) akhirnya dibolehin 100ribu. Kami pun masuk bus dengan perasaan setengah lega. Yah, nggak papalah bayar lebih banyak yang penting sampai rumah, pikir kita saat itu.

Tapi memang dari awalnya sudah nggak jelas, busnya pun ternyata rutenya muter-muter dulu. Berhenti-berhenti terus pula di terminal lain. Di Kampung Rambutan bahkan ngetem lama lagi. Sampai kita sempet dipalak preman ABG, haduduu. Dengan gaya sok berani (lagi), Kang Aria dan Galuh berhasil mengusir mereka hanya dengan 2ribu perak, hehehe. Dan bukan hanya itu, sesampainya di terminal Kota Tegal kita diminta turun. Tiket kita dicek, dan ternyata di tiket kita cuma ditulis kalau kita naik sampai Tegal. Subhanallah, saking kurang pengalamannya kita, kita nggak ngecek tiket kita ditulis untuk sampai di tujuan mana. Meskipun kita sempat bersitegang dengan penanggung jawab busnya, akhirnya kita tetap mengalah dan memutuskan mencari bus lain untuk melanjutkan perjalanan ke Purwokerto. Keluar uang lagi deh, hadeeh. Dan dengan perjalanan sepanjang itu, akhirnya kita baru sampai di Purwokerto jam 10 pagi. Bayangkan, 13 jam perjalanan di dalam bus hanya untuk menempuh dari Jakarta ke Purwokerto =_=.

But, still alhamdulillaah bisa kembali dengan selamat di kota tercinta. Dan masih bisa menceritakan pengalaman ini ke teman-teman :D

To be continued :)

Senin, 14 Oktober 2013

7 Hal yang Khas di Cilongok (Bukan) Versi On The Spot


Saya adalah Cilongok-ers. Saya lahir dan besar di kecamatan yang sangat nyaman ini (alhamdulillah ^^). Sebagai wujud cinta saya pada tanah kelahiran saya itu, saya akan menjelaskan, menceritakan, menuturkan, dan membeberkan :D tujuh hal yang khas di daerah Cilongok. Yuks, cekibrot!

1.    Gula Jawa

 Gula jawa adalah salah satu produk khas yang banyak ditemukan di Cilongok. Bisa dikatakan, Cilongok merupakan sentra gula jawa. Gula jawa di Cilongok memiliki bentuk khas berupa tabung silinder, karena dibuat dengan cetakan dari bambu yang dipotong-potong. Gula jawa manis rasanya (ya iyalah :D), terbuat dari nira kelapa (atau di Cilongok disebut dengan “badheg”) yang disadap oleh para penderes. Nah, penderes inilah hal khas kedua dari Cilongok.

2.    Penderes

Kalau tak ada para lelaki yang mengambil nira atau sari pohon kelapa di mancung yang terletak di puncak pohon, maka tak akan ada gula jawa yang terbuat. Mereka itulah yang disebut sebagai penderes. Banyak para bapak di Cilongok yang berprofesi sebagai penderes untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mereka memanjat pohon kelapa yang tingginya sampai belasan meter sambil membawa beberapa potongan bambu dengan panjang masing-masing sekitar 40 cm. Bambu-bambu ini disebut pongkor, gunanya untuk menampung nira dari mancung kelapa. Pongkor ini akan ditempatkan selama seharian agar nantinya bisa diambil dalam keadaan penuh. Nira yang sudah diambil akan dimasak oleh para istri dari penderes dengan cara memanaskannya dalam sebuah wajan besar selama beberapa jam. Tidak ketinggalan pula nira itu terus diaduk dengan teratur selama dipanaskan, sampai akhirnya nira mengental (munjuk) dan berubah warna menjadi cokelat tua. Setelah munjuk atau matang, nira yang sudah berubah tekstur dan warna itu dituangkan ke dalam masing-masing cetakan dan didiamkan hingga dingin. Setelah dingin, gula jawa pun jadi dan siap dikeluarkan dari cetakan, dan biasanya segera dijual ke pengepul. Begitulah para penderes bekerja sama dengan istrinya untuk memproduksi gula jawa ^^.

3.    Peti Gula

Nah, kalau sudah terkumpul di pengepul (atau juga disebut juragan gula :D), biasanya gula jawa didistribusikan ke berbagai daerah. Biar si gula jawa tidak rusak selama proses pengiriman, maka biasanya mereka dikemas dengan peti atau kotak kayu. Maka, peti gulapun menjadi barang yang banyak diproduksi di Cilongok. Banyak penduduk yang berwiraswasta menjadi juragan peti gula dengan membuat pabrik peti gula di masing-masing rumah mereka. Biasanya mereka mempekerjakan para pemuda desa untuk membuat peti-peti tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, para distributor gula beralih menggunakan plastik yang agak tebal, dengan alasan lebih murah dan praktis dibanding menggunakan peti. Alhasil, kini home industry peti gula di Cilongok kebanyakan hanya tinggal sisa-sisa bangunan dan kayu-kayu bekas yang berserakan.

4.    Cimplung
Dan ini, adalah salah satu makanan kebanggaan saya sebagai warga Cilongok, dialah Cimplung. Cimplung adalah makanan yang biasa dijadikan kudapan bagi warga Cilongok. Rasanya legit dan alami. Cimplung dibuat dari singkong, pisang, ubi jalar, kelapa, atau hampir semua jenis umbi-umbian yang dimasukkan ke dalam nira (bakal gula) yang sedang dimasak. Setelah bakal gula itu meresap ke dalam setiap potongan singkong dan kawan-kawan, mereka pun diangkat dan siap disantap. Wuihh, yang paling mantep kalau Cimplung singkong jenis singkong mentega. Singkongnya merekah, pulen, dan gulanya meresap sampai ke dalam. Mantapks! ^^

5.    Tahu Kalisari
Hmmm yummy! Iya, Tahu Kalisari adalah tahu terlezat menurut saya. Rasanya begitu khas dan alami. Tahu Kalisari enak dimakan tanpa harus digoreng, direbus, atau dibumbui terlebih dahulu. Dan yang menjadikan tahu ini sangat spesial, hanya di Cilongoklah kita bisa menjumpai Tahu Kalisari.
Dinamakan Tahu Kalisari, karena tahu ini diproduksi oleh warga Desa Kalisari yang masih termasuk dalam kecamatan Cilongok. Hampir seluruh warga di desa itu bekerja sebagai produsen tahu. Bahkan, jika kita memasuki kawasan desa itu, semerbak bau harum kedelai yang sedang diproses menjadi tahu akan sangat terasa. Tidak salah jika tugu tanda masuk desa itu ditambah dengan ikon tahu di atasnya.
Tahu Kalisari is the best tahu I’ve ever eaten :D

6.    Curug Cipendok
Kekhasan Cilongok yang berikutnya jatuh pada tempat wisata yang cukup terkenal, yaitu Curug Cipendok. Terlihat dari namanya, Curug Cipendok merupakan objek wisata air terjun yang terletak di Desa Cipendok, masih termasuk Kecamatan Cilongok. Air terjun ini mempesona, dengan debit air yang cukup besar. Banyak wisatawan dari dalam maupun luar kota yang mengunjungi curug ini. Saya juga pernah ke sana meskipun waktu SD. Dan memang mengakui, Curug Cipendok itu istimewa! *bukan chibi-chibi ya :D*

7.    Tasripin
Masih ingat dengan anak kelas 6 SD yang harus bekerja dan merawat tiga adiknya sendirian? Ya, dialah Tasripin. Sewaktu berita ini mencuat ke media, nama Cilongok juga ikut-ikutan mencuat. Sebenarnya ini bukan kekhasan, hanya saja hebohnya berita ini membuat Tasripin sangat identik dengan Cilongok, dan Cilongok sangat identik dengan Tasripin. Sebenarnya saya tak ingin menuliskannya di sini karena banyak orang yang terlalu mengait-ngaitkan Tasripin dengan Cilongok. Padahal, banyak juga kasus yang lebih mengenaskan di daerah lain. Mungkin karena Cilongok jarang kena berita yang jelek, jadi terasa banget, hehe.
Tapi di luar itu, saya cukup salut dengan anak yang satu ini. Dalam usia sekecil itu, ia tidak lari dari tanggung jawab. Tetap bersama ketiga adiknya dan setia merawat mereka. Sampai akhirnya kabar ini dimuat di media dan kini nasib Tasripin pun telah berubah ^^.

OK, itu sih yang bisa saya rangkum dari hal-hal yang khas di Cilongok. Dan terakhir saya pengen bilang, saya bangga sebagai warga Cilongok ^^


See ya in the next post :) 

Rabu, 18 September 2013

Komik Qurban Versi Edited

Kalo sebelumnya Nena Atha posting tentang komik yang masih mentah, sekarang Nena Atha bakal ngasih liat nih, komik qurban karya Nena Atha yang udah diedit keren badai (haha) sama Kang Aria Achmad, temen kerja di PKPU. Dan alhamdulillah komik ini sudah terbit di buletin Suara Qurban PKPU Purwokerto. Monggo dilihat, dibaca, dan dihayati.. hehehe (Maaf kalo gambarnya kurang jelas, soalnya ukurannya kecil ^^).


5 Kantor yang Tambah Rame Saat Musim CPNS (Bukan) Versi On The Spot

Antrean di Ruang SKCK di Sebuah POLRES

Indonesia memang negara yang kaya musim. Dari musim hujan, musim kemarau, musim duren, musim rambutan, sampai musim CPNS, hhe. Lagi happening banget nih yang satu ini, terutama buat kaum pendamba pekerjaan tetap dengan jaminan pensiun, hehehe. Saking happeningnya 4 huruf ini, berimbas pula pada kantor-kantor di daerah-daerah, terutama yang ngelayanin orang-orang yang mau melengkapi persyaratan buat daftar. Info ini penting juga nih, biar yang lagi mau ngurus persyaratan CPNS bisa menyiapkan fisik dan mental untuk menghadapi kenyataan saat datang ke kantor-kantor tersebut, hehe, serem amat. Kantor apa aja sih kira-kira? Yuks, cekibrot!

1. POLRES (Kepolisian Resor)
Yup, kagak salah lagi kalau kantor yang satu ini jadi tambah rame ketika musim daftar CPNS tiba, khususnya di bagian pembuatan SKCK. Bahkan, antrean bisa sampai membludag melebihi antrean warga yang mau ambil BALSEM, eh BLSM. Ada yang bikin baru, memperpanjang, dll. Perlu diketahui ya buat yang mau bikin SKCK baru, wajib bawa foto ukuran 4 x 6 berwarna 5 lembar sama KTP. Jangan lupa nanti di sana ngisi formulir & foto sidik jari. Buat yang mau memperpanjang, cukup bawa SKCK lama atau fotokopiannya yang udah dilegalisir. Buat jaga-jaga bawa foto juga deh. Jangan lupa juga, semua ada biaya, jadi bawa duit ya :).

2. DINSOSNAKERTRANS (Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi)
Salah satu kantor dinas yang singkatannya lumayan panjang ini merupakan kantor yang juga tambah rame di kala musim CPNS tiba. Hal ini dikarenakan salah satu persyaratan CPNS yang paling umum adalah kartu kuning. So, buat yang belum pernah bikin, mereka akan berbondong-bondong ke DINSOS bla3 (males ngetik saking panjangnya nama tu dinas hihi) buat bikin tu kartu kuning. Dan buat yang udah bikin, biasanya dateng buat absen alias minta tanda tangan petugas di kolom laporan. Buat yang mau bikin kartu kuning, kalo nggak salah cukup bawa fotokopi KTP, foto 3 x 4 hitam putih 2 lembar, sama fotokopi ijazah atau SKL yg udah dilegalisir. Buat yang mau absen sih, tinggal bawa kartunya sama bilang ke petugas aja kalo mau absen.

3. DINDUKCAPIL (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil)
Widih, kantor yang satu ini juga ternyata nggak kalah rame loh saat musim CPNS tiba. Rata-rata, mau legalisir Akte Kelahiran, KTP, sama KK. Maklumlah, persyaratan CPNS juga lumayan ribet sampe legalisir identitas diri juga. Kalau yang satu ini si gampang pisan. Pelamar cukup ngasih berkas yang mau dilegalisir, trus nunggu sampai dipanggil deh. Gratis tis tis :D

4. Kantor Pos
Selain emang tiap hari rame, kantor pos juga semakin rame dengan kedatangan para pelamar yang mau ngirim lamarannya ke masing-masing instansi yang buka CPNS-an. Biasanya akan dikenakan biaya khusus tuh buat ngirimnya. Kalau tarif biasanya 10 ribuan, pas CPNS jadi hampir 20 ribu. Yah, nggak papalah, demi melamar ke instansi impian, hehehe.

5. Yankes Milik Pemerintah (Kayak RSUD, Puskesmas, dll)
Memang sih, instansi yang satu ini juga hampir selalu rame karena banyaknya orang yang sakit (sedih ya T.T), instansi ini juga jadi rame kala musim CPNS tiba. Terutama buat mereka yang persyaratan melamarnya ada suruh bikin surat keterangan sehat, surat keterangan bebas narkoba, dsb. Biasanya ini yang menjadi salah satu momok bagi pelamar, karena biayanya yang lumayan menguras kantong.

Kalo menurut Nena Atha si begitu, berdasarkan pengalaman pribadi, hehe. Karena baru kemarin nih, Nena Atha ngirim lamaran ke satu instansi dengan perjuangan melengkapi persyaratan yang berdarah-darah (haha, lebaaay ding). Saran Nena Atha si, kalo mau ngurus persyaratan gitu-gitu bisa agak jauh-jauh hari, biar nanti nggak misuh-misuh waktu ngantrenya sampe seharian, kecuali buat surat-surat yang emang diminta harus bener-bener fresh kayak surat keterangan sehat & bebas narkoba. Dan, Kalo ada yang nemu kantor lain yang juga rame pas musim CPNS, boleh dishare di kolom komen. Semoga bermanfaat. Haturnuhun..

See ya on the next post ^^

Senin, 02 September 2013

Komik Qurban

Beberapa hari yang lalu teman kerja di PKPU mengajak bikin movie buat iklan qurban. Saya ada ide, tapi pengennya dengan tokoh utama hewan qurban. Saya bilang gimana kalau bikin animasi, tapi teman saya tidak bisa, apalagi saya. Karena bisanya bikin komik, akhirnya tadi siang saya iseng menuangkan ide saya dalam sebuah komik. Benar-benar masih tingkag iseng, karena bikinnya saja pakai kertas bekas, hehe. See the picture below:

Yah, uploadnya blm dirotate..
Ya sudahlah silakan dinikmati komik saya yang belum sempat diedit ini ya temans..

See ya in the next post ;)

Cara Menemukan Alamat

Sebagai staf divisi program lembaga kemanusiaan nasional PKPU, survey ke tempat calon penerima manfaat (bantuan) sudah seperti makanan sehari-hari. Dan itu membuat saya terbiasa pergi ke antah berantah, eh, maksudnya pergi ke alamat yang sebelumnya tak saya ketahui ^^.
Buat yang profesinya sama dengan saya, atau mungkin sedang penelitian dan butuh datang ke rumah-rumah orang, yuks intip tips singkat nyari alamat rumah a la Nena Atha. Cekibrot! :D
1. Pertama, catet dulu alamat lengkap tujuanmu, dari mulai kota, desa, kelurahan, sampai RT/RW, nomor rumah, dan nama jalannya. Pokoknya selengkap-lengkapnya. Jangan malah nyatet belanjaan ya.
2. Berangkat dengan membaca basmalah, supaya dimudahkan oleh Allah. *kadang saya juga merasa dimudahkan Allah, karena sering berhenti ngacak tapi justru tepat di depan rumah yang dituju, alhamdulillaah ^^
3. Kalau sama sekali tidak tahu arah daerah itu dituju, bisa kamu pergi ke wilayah yang mencakupnya dulu. Misal kamu tahu desa itu ada di kecamatan mana, tapi kamu tidak tahu arahnya, ya sudah ke kecamatan itu dulu saja, selebihnya bisa mengandalkan info orang di jalan. *saya saranin jangan libatkan orang-orang birokrasi macam petugas kecamatan, kelurahan, dst, karena justru bisa bikin rempong. Suka ditanya-tanya dan bisa saja jadi harus terlibat proses birokrasi Indonesia yang terkenal lambreta. Hehe.. #maaf,kenyataan
4. Kalau sudah sampai daerah yang diketahui, janganlah malu bertanya karena bisa tersesat di jalan. Ya, pepatah itu memang singkat, penuh makna, dan sangat mainstream, hehe. Tip
s khusus untuk memilih orang yang ditanya ada urutannya. Usahakan carilah ibu-ibu, kalau tidak ada carilah mbak-mbak, kalau tidak ada carilah bapak-bapak, mas-mas dewasa, mbah-mbah yang masih sehat. Cari sampai mereka ketemu. Kalau tidak ketemu juga, carilah warung dan tanyalah ke tukang jualannya. Kalau perlu, sambil beli juga, biar yang jualan tambah ramah, hehe.
5. Kalau sudah dapat petunjuk dari orang yang ditanya biasanya akan semakin jelas ke mana arah harus dituju, so tinggal melanjutkan perjalanan. Kalau nanti bingung lagi, yo tanya lagi saja. Ingat, dengan rumus tadi ya.
Itulah kurang lebih tips singkat utk menemukan alamat rumah seseorang. Standar memang, tapi kadang orang susah dan berat mau menjalaninya karena pesimis duluan. Takut nyasar lah, takut orang-orang pada tidak mau menunjukkan lah. Itu sebenarnya hanyalah prasangka kita. Tanamkanlah optimisme, sehingga raut muka kita pun akan menyenangkan ketika dihadapkan dengan orang yang ditanyai. Asal kita sopan, pasti orang lain akan merespon kita dengan baik. Gagal bertanya pada satu orang jangan sampai membuat kita langsung down. Masih banyak orang baik yang mau menunjukkan jalan dengan benar. Bagaimanapun, insya Allah persentase orang baik di dunia ini masih banyak dibanding orang jahat. Yang penting bismillah dan tawakkal, hehehe..

See ya for the next post ;)

Kamis, 21 Maret 2013

Eternal: Jajanan (Kemasan) Masa Kecil Abad 20

Hmm, sore yang cerah, tidak panas, tidak dingin, sejuk. Jadi kangen sama jajanan masa kecil (gubrak :D). Ya, tiba-tiba pengen share aja tentang jajanan masa kecil abad 20, tepatnya tahun 1995an sampai 2000an. Yuks kita intip! ^_^

1. Anak Mas


Ini adalah jajanan masa kecil paling fenomenal. Rasanya umami, lebih dari enak (agak lebay emang :D). Tapi beneran enak, jajanan nomor 1 favorit saya waktu kecil. Dulu ada yang bungkusnya biru dan emas juga. Tapi yang paling enak memang yang warna merah. Sekarang udah jarang banget yang jual anak mas klasik ini. Ada yang pernah jual, tapi pas saya pesen gak ada kabar jadi jualan apa gak -_-. Dulu saya beli 250an perak. Pengen lagiii T_T

2. Mie Krip Krip


Wah, ini nih jajanan fenomenal lainnya. MIE KRIP KRIP. Widih, yang ini juga umami banget rasanya. Murah banget lagi. Dulu saya pernah menjumpai masa di mana satu bungkus Mie Krip Krip cuma Rp 50! Kalo jaman sekarang, uang 50 perak aja udah gak ada bentuknya, dulu bisa dapet jajanan ini sebungkus (meskipun cuma sekali hop langsung abis, hehe).


3. Tini Wini Biti


Ada lagi nih Tini Wini Biti. Yang ini agak mahalan sih, biasanya yang beli anak-anak kaum elite sosialita gitu (cieh, bahasanya :D). Gak kayak Anak Mas yang lebih sering saya beli, kalau Tini Wini Biti cuma saya beli kalau dikasih uang jajan lumayan banyak sama ibu. Kadang harus nunggu momen pergi bareng ortu atau pas lebaran, hehehe. Snack ini juga lumayan umami. Ada banyak rasa juga, yang paling enak yang rasa sapi panggang, heheee.

4. Mie Remez


Kalau ini udah agak hampir 2000an, gak seklasik Anak Mas maupun Mie Krip Krip. Tapi rasanya tetep ngangenin juga, apalagi sekarang udah gak ada. Kalo Anak Mas dan Mie Krip Krip jaman jajanan merakyat, kalau mie remez udah masuk jaman jajanan menengah (apasih), ya maksudnya udah masuk harga rata-rata 500 per bungkus gitu, hehe.

5. Chiki Balls (versi klasik)

Kalo yang ini masih ada sampe sekarang, cuma ganti tampilan kemasan. Sebenarnya rasanya nggak terlalu khas, tapi yang khas itu adalah hadiahnya, tazos. Dulu anak-anak pada rame banget tuh banyak-banyakan ngumpulin tazos, sampe ditumpuk-tumpuk. Saya sih waktu itu gak ikut-ikutan, soalnya chiki balls juga termasuk jajanan anak-anak elite sosialita alias harganya lumayan mahal :P

6. Kerupuk Jengkol


Kalau ini sebenernya agak kontroversial, karena ada yang gak suka. Tapi saya suka, banget malah. Kalau dulu, bungkusnya gak kayak di gambar ini, tapi rasanya sama. Hmm, sensasi jengkolnya itu, mantapks! :D

Segitu dulu postingan kali ini, nanti saya share lagi deh jajanan masa kecil yang non kemasan (bukan pabrikan). Ada lagikah yang punya kenangan jajanan masa kecil kemasan lain? ^_^

Referensi: pengalaman pribadi :)

Jumat, 28 Desember 2012

A Long Visit a.k.a My Mom--Ada yang Tidak Beres dengan Sang Ibu


Poster Film A Long Visit (My Mom)

Ini adalah tulisan lama saya, tertanggal 6 Januari 2011 di arsip saya. Dulu saya posting di note FB, namun kali ini saya ingin mempostingnya lagi di blog ini. Check it out!

Banyak teman yang bilang film ini BAGUS, mengharu biru, dan pokoknya menyentuh hati. Saking meyakinkannya mereka bilang begitu, saya jadi semakin termotivasi untuk menontonnya. Beberapa hari setelah mendapat film-nya, saya langsung menontonnya. Mungkin karena ekspektasi yang terlalu berlebihan, akhirnya membuat saya jenuh menonton film ini. Pada awalnya saya menikmati alur cerita yang natural dan sangat “nyata” di kehidupan kita itu, tapi baru setengah dari durasi film, saya angkat tangan dan memutuskan untuk mematikan laptop saya. Saya pikir akan ada semacam “kejutan” atau apalah di tengah cerita, tapi nyatanya alur film tetap berjalan seperti itu. Mungkin memang A Long Visit dimaksudkan untuk dijadikan film yang datar tapi mengena, seperti The Way Home, Hearty Paws, Hachiko, atau Wedding Dress. Tapi, menurut saya—ini menurut saya J--keempat film tersebut lebih punya sedikit amplitudo dibanding A Long Visit.

Akhirnya saya merampungkan film itu beberapa hari kemudian. Saya penasaran, tapi bukan layaknya penasaran terhadap kejadian di dalam film itu, melainkan penasaran kapan si “kejutan” atau setidaknya sedikit “amplitudo” itu akan muncul. Dan memang, amplitudo itu muncul, tapi agak-agak di akhir. Ternyata, si anak perempuan kesayangan sang ibu sakit kanker dan meninggal di penghujung film—ending tipe film golongan atau digolongkan “datar tapi mengena”.

Kalau dari segi akting, film ini memang bagus. Sang ibu dan anak perempuannya bisa menerjemahkan skenario film yang dibuat sealami mungkin (seperti kehidupan sehari-hari) menjadi akting yang juga natural. Bagaimana ibu yang tidak berpendidikan berjuang membesarkan anaknya dengan penderitaan dan kekonyolan-kekonyolan yang banyak terjadi di sekitar kita, sang anak yang malu tapi sayang dengan ibunya yang norak tapi sangat mencintainya, dan sederet peristiwa-peristiwa lazim lainnya yang terjadi di kehidupan nyata. Film ini menjadi kubu seberang dari film-film laris yang dikatakan realistis tapi tidak realistis-realistis amat juga. Misalnya, ketika seorang gadis harus berjuang menghidupi diri dan keluarganya (atau harus berjuang untuk membayar utang yang ditinggalkan orang tuanya), ia lalu bertemu dengan laki-laki tipe pangeran tampan yang bertemu dengannya karena suatu KEBETULAN. Meski dari kalangan tidak punya, kebetulan gadisnya cantik, jadi endingnya pun... ya begitulah. Kalau dipikir-pikir, apa iya kita sering menemui fenomena semacam ini? Kalau kebetulan gadisnya tidak cantik (secara fisik) bagaimana? Atau yang laki-lakinya tidak tampan (secara fisik juga) bagaimana? Sudah begitu, kadang-kadang si gadis jadi rebutan juga. Laki-laki yang merebutkan masuk tipe pangeran tampan pula! Kalaupun ada kenyataan semacam ini, pasti sedikit. Padahal cerita tipe cinderella seperti ini buaanyak sekali dipakai untuk inti cerita dan laris manis di pasaran. Tapi tidak bisa dipungkiri, kisah-kisah seperti ini memang banyak disukai oleh masyarakat, terutama masyarakat yang mendambakan kehidupan ideal, sejenak mereka lari dari kenyataan dan bahagia dengan menonton serial yang beralur ideal itu.

Dibanding dengan kisah semacam itu, mungkin sesekali kita memang perlu menonton film-film yang lebih realistis dan natural, kita bisa bercermin terhadap diri kita sendiri, dan kadang menertawakan kekonyolan dalam film yang sering kita lakukan di dunia nyata. Seperti film A Long Visit ini, yang malah mungkin terlalu realistis.

Hal lain yang mengecewakan saya, selain “amplitudo” yang kurang greget, adalah pesan moral film ini yang kurang sempurna. Mungkin dari film ini, sang penulis cerita ingin menyampaikan pesan dengan tokoh utama ibu, yaitu tentang “sayangilah ibu”, “jangan membenci ibu”, “pengertianlah terhadap ibu”, dan sebagainya. Tetapi setelah menonton film ini, bukannya saya menangis karena terkenang sosok ibu yang begitu mulia, saya malah sungguh tidak suka dengan sosok ibu dalam film ini. BENAR-BENAR TIDAK SUKA.

Mari kita cermati dari tiap segmen film ini.

Pertama, film ini seolah-olah menunjukkan betapa besar kasih ibu kepada anaknya. Tapi anak yang mana? Di film ini, si ibu sangat sangat sangat menyayangi anak perempuannya, tapi anak laki-lakinya ia cueki mentah-mentah. Kalau pesan yang akan dibawa adalah besarnya kasih sayang ibu kepada anaknya, harusnya tokoh ibu dalam film ini juga menyayangi anak laki-lakinya (adiknya si anak perempuan kesayangan). Atau setidaknya bersikap sewajarnya, tidak cuek seperti itu. Kesan ibu mulia yang penuh kasih sayang terhadap anaknya (semua anaknya—red) menjadi gagal dibawakan dalam film ini, karena ia hanya mencurahkan kasih sayangnya pada anak perempuannya.

Kedua, film ini seolah-olah ingin menunjukkan betapa besar dan berat perjuangan seorang ibu untuk membesarkan anaknya. Tapi, film ini menunjukkan karakter sang ibu yang RELA melakukan APA SAJA demi anaknya, termasuk mendatangi peramal dan menawar harga makanan di pasar dengan begitu sadis. Tentu saja saya sebagai seorang muslim sangat tidak sepakat dengan hal ini. Kita boleh bekerja keras untuk suatu hal yang baik (termasuk membesarkan anak), tapi tidak sampai berbuat syirik dan mendzalimi orang lain.

Ketiga, film ini seolah-olah ingin menunjukkan rasa cinta yang total dari sang ibu untuk anaknya (anak perempuannya—red). Tapi, rasa cinta ini sungguh diekspresikan terlalu berlebihan. Sang ibu sangat tidak rela ketika anaknya mati, sampai menangis meraung-raung, bahkan berjanji untuk mati duluan. Karena ternyata tidak mati duluan, ia berjanji untuk segera menyusul anaknya dan bertemu dengannya di kehidupan berikutnya. Kehidupannya pun dihabiskan dengan hanya melamun dan ia menjalani semua aktivitas seolah-olah tanpa nyawa—sampai sebegitunya. Kembali lagi, dikemanakan anak laki-lakinya? Bukankah ia masih punya seorang anak laki-laki? Lalu ia juga punya cucu dan menantu yang baik. Mereka semua dikemanakan? Lagi, sebagai seorang muslim saya sangat tidak sepakat dengan hal ini. Sang ibu telah menempatkan rasa cinta yang pertama untuk anak perempuannya. Padahal, tingkatan cinta yang pertama adalah untuk Allah SWT. Dan yang keduapun untuk Rasulullah SAW. Tidak boleh kita cinta berlebihan pada harta, kekuasaan, kecantikan, ketampanan, bahkan pada anak. Kita juga tidak boleh menangisi orang yang sudah meninggal dengan berlebihan, sampai meraung-raung, mengutuk, dan bahkan mempengaruhi perjalanan kehidupan kita selanjutnya. Kita harus merelakan setiap nyawa yang pergi meninggalkan kita, agar ia pun bisa pergi dengan tenang.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan yang saya cermati itu, kembali saya menyampaikan bahwa mungkin film ini memang ditujukan untuk menunjukkan realita yang ada dalam hidup kita. Mungkin sang penulis cerita pernah menjumpai sosok ibu dengan karakter semacam itu, atau bahkan mengalaminya sendiri. Tidak bisa dipungkiri, di dunia nyata ini ada sosok ibu dengan karakter seperti itu, dan penulis cerita ingin menunjukkan bahwa “ini lho, ada ibu yang sayang sama anaknya sampai sebegitunya...”. Kalau memang tujuan film ini hanya sekedar mencuplik realita dalam kehidupan ini, film ini cukup bagus, karena kedalaman peran ibu dan anak yang natural. Tapi kalau film ini ditujukan untuk membawakan pesan moral, saya rasa masih ada yang kurang pas.

That’s all. Itulah hasil cermatan saya tentang film A Long Visit a.k.a My Mom. Mungkin terkesan subjektif, dan mungkin saja hasil cermatan orang lain akan berbeda. But it doesn’t matter, semua orang punya pendapat masing-masing :)